Friday, October 23, 2015

Holiday in Memories

Tahun lalu, tepat di bulan ini, kami bertiga sukses kabur sesaat dari hiruk pikuk Jakarta..
Sayang sekali, sepertinya tahun ini tidak ada sweet escape lagi karena alokasi dana liburan ke pos edukasi Arka..

Untuk mengenang asyiknya jalan-jalan tahun lalu, foto-foto ini dihadirkan.

















































Wednesday, October 7, 2015

It's My Adventure. Not Yours. Period.

I'm really sorry to post this kind of defensive writing.
It's not much inspiring.
But somehow i think it's necessary.

Well..
I like to hang out with my old friends (single/married/with child/without child).
But sometimes it's not as easy as you think. 
Beside the schedule-matching thing, of course.

My college friends are the harder to meet. And to cope with.
It is strange.
Somehow, the topic of success and career has always been an important issue to them.

Saya sih, cukup puas dengan menjadi pendengar saja.
Terutama kalau ada kisah & pengalaman yang lumayan inspiring.
Tetapi, kadang mereka tidak puas kalau tidak "nyinyir" terhadap kehidupan orang lain.
Saya pun tak lepas dari kenyinyiran mereka.

Contohnya, kalimat berikut ini.
"Sayang ya, kalau 'dia' (baca: saya) hanya di rumah saja. Sayang ilmunya tidak terpakai dan malah terlupakan."

Well, honestly... Ilmu yang saya dapatkan selama 5 tahun lebih kuliah di veterinary medicine sama sekali tidak tersia-siakan.
Misalnya saja, cara memasak bahan pangan yang benar, kebersihan rumah & peralatannya, cara cuci tangan, serba-serbi dairy products, serta mekanisme kerja obat-obatan
Nah, yang terakhir ini sangat penting, terutama waktu si kecil sakit.
Yang tidak kalah penting adalah mengenalkan indahnya dunia satwa sejak dini kepada si kecil.
Semua ilmu dari masa kuliah tersebut masih saya praktikkan setiap hari.

Hmm.. Berarti, mungkin yang berkomentar seperti di atas itu tidak memakai ilmunya untuk membesarkan anak dan mengurus keluarga.

Anyway, as for me, saya sudah memilih untuk kerja di rumah sejak masa Koas.
Saat itulah saya melihat betapa sibuknya dunia kerja dokter hewan.
Saya yang bercermin dari masa kecil dengan workaholic parent, langsung berpikir, "Lebih baik saya bekerja dari rumah, dengan berwirausaha, misalnya."

Intinya adalah, my friends, saya memang sudah merencanakan untuk "di rumah saja".
Saya bukannya terpaksa merumahkan diri karena disuruh suami. No, no, no..
Berulang kali saya mencoba memvisualisasikan realitas alternatif.
Misalnya, saya menyewa baby sitter.
Atau menitipkan anak ke ortu.
Hmmm.. Saya tidak akan sanggup menjalaninya.
Apalagi, banyak sekali ilmu yang perlu dipelajari tentang parenting.
Banyyaaakkk sekaliii!!
Dan saya tipe yang tidak sanggup mengorbankan parenthood demi mengejar karier.
Saya loh, ya~

Jadi, kesimpulannya.
Selama saya bisa (dan Tuhan merestui) mengasuh anak sendiri, saya akan "di rumah saja".
So just shut your 'nyinyir mouth.

Tuesday, September 29, 2015

Homemade Play Dough: Yay or Nay?

Blame Pinterest & Youtube for this blogpost.
Banyak ortu-ortu trendi masa kini 'ngotot membuat 'homemade things' untuk anaknya (terutama yang masih bayi). Motifnya mungkin ingin menyediakan barang-barang yang aman bagi buah hati. Memang, bisa saja kita suspicious terhadap produk pabrikan yang komposisi bahannya wallahu'alam.

Ada jutaan resep creativity games di Pinterest yang bisa kita coba di rumah.
Termasuk lilin (adonan sih, exactly) mainan atau play dough.
Yuk, kita cek apa saja sih, manfaat bermain play dough.


Sebenarnya sih, saya tidak termasuk ortu yang anti-barang-pabrikan.
Jadi, bisa saja sebenarnya jalan kaki ke toko bayi dekat rumah dan membeli produk play dough buatan pabrik.
Hanya saja, sewaktu menengok isi resep Homemade Play Dough di Youtube & Pinterest koq, rasanya mudah banget. Jadi ingin iseng-iseng mencoba.

Watch this hilarious tutorial on Youtube.


Dann..
TA-DAAA~
100% homemade play dough.
50% satisfaction of the result (according to me).
60% excitement of the baby.
70% works to clean up the mess.

The Result
1. Saya mengharapkan play dough yang lembut dan mudah dibentuk. Namun, untuk resep tersebut, kita harus menambahkan minyak dalam jumlah cukup banyak. Efeknya, alas bermain jadi menyerap minyak. Euuww~
Padahal saya sudah meletakkan kertas kalendar bekas yang cukup glossy. 
Di lain waktu saya menggunakan talenan sebagai alas.

2. Entahlah, mungkin merek bahan pewarna yang saya gunakan kurang yahud. Rasanya di Pinterest sana koq, tampak cantiiiik sekali warna-warninya. Sedangkan, play dough saya warnanyaaa...
(Apa standar saya yang terlalu tinggi, ya?)
Sempat terpikir, warna yang n'demek ini bisa jadi karena menggunakan minyak yang berwarna kekuningan. Mungkin di lain waktu saya akan mencoba menggunakan minyak kelapa. (Tapi akhirnya, ongkos produksi jauh melebihi harga play dough pabrikan..)

3. Saat saya mencoba mencetak si homemade playdough ini dengan menggunakan Cute Cutter dari dough pabrik (bukan cookie cutter), hasilnya mengerikan! Adonannya terlalu lunak sehingga gambar tidak tercetak dengan sempurna. Adonan ini bisa sukses dibentuk dengan menggunakan cookie cutter atau mainan shapes milik si bayi.

4. Untungnya, si adonan ini bisa disimpan dalam kantong ziplock tanpa menjadi tengik dan keras. Lewat dua minggu sejak waktu produksi, si adonan masih bisa dipakai bermain.

5. Anyway, memang semestinya para ortu bermain play dough dengan anak berusia 2 tahun ke atas.
Karena, di bawah itu, mereka biasanya menjadi destroyer.. Haha!
Seperti Arka, saat ibunya membuat teddy bear, dia menancapkan ranting-ranting pohon sehingga hasil akhirnya malah menjadi Voodoo Teddy Bear.
Jangan tanya mengapa tidak ada bentuk bunga.
Saat mahkota bunga baru jadi sebagian, sudah hancur bunganya dilindas truk milik Arka..
Goodness gracious..

6. Tetapi setidaknya, play dough ini tidak akan menjadi masalah jika tertelan.
Dan lumayan mengasyikkan sebagai bahan permainan indoor jika musim hujan tiba..

Beberapa hasil karya yang dibuat dengan waktu < 1 menit untuk menghindari tangan usil Arka
























The Conclusion
Homemade play dough ini cocok digunakan untuk permainan menghias dengan berbagai aksesoris. Misalnya, ranting pohon, manik-manik, bebatuan kecil, kancing, kerang, mata untuk boneka, dan sebagainya.

Sayangnya, jika Moms & Dads mengharapkan bisa membuat kue ultah cantik a la Play Doh, sepertinya tidak bisa. Hehehe..

Sekali lagi, ada baiknya jika memainkan play dough ini bersama anak usia 2 tahun atau lebih. Berdasarkan pengalaman saya, anak di bawah 2 tahun belum begitu tertarik dan belum memahami asyiknya memainkan play dough.

Baiklah, mungkin saya akan kembali membuat play dough saat Arka sudah lebih besar nanti.

Amen.
Salam dari lelaki bercawat pink..

Sunday, September 20, 2015

Nature Lover Kids, Why Not?

Arka & his toy police car (yang rusak hanya dalam waktu 7 hari)
Good day, Parents!
Bicara tentang childhood, saya merasa beruntung bisa tumbuh di kota kecil yang asri dan indah.
Apalagi masa itu belum ada serangan teknologi semasif sekarang.
Kenangan tentang masa kecil tersebut masih berhasil menentramkan jiwa hingga kini.
What an amazing childhood~

Saya selalu merasa damai dan tentram di alam terbuka.
Saya pun berharap Arka bisa merasakan asyiknya bermain di luar rumah sesering mungkin..
Termasuk jika saya sudah merasa penat dengan segala rengekan Si Little Imp.
Biasanya saya langsung mengajaknya berjalan-jalan di lapangan depan rumah.
Kebetulan di sana juga ada taman kanak-kanak yang (kadang) terbuka untuk umum.

Thanx God, it seems he enjoyed every adventure

Ajaib, ya? Hanya dengan bermain di lingkungan yang masih hijau sekitar 30 menit, mood kami berdua langsung membaik. Ternyata, ini terjadi akibat kadar serotonin dalam tubuh meningkat. Serotonin dikenal sebagai Si Mood Booster dan Si Penumbuh Kasih Sayang. Hehehe..

Berikut ini adalah beberapa manfaat yang bisa kita peroleh dari bermain di alam bersama si kecil.




Inilah yang terjadi di dalam tubuh kita saat menikmati segarnya alam..



Anyway, manfaat laten jika Si Bayi main di ruangan terbuka yakni energinya yang berlebih itu menjadi tersalurkan. Meaning: early bedtime! Hurrah!

Lastly, ungkapan Oma Anne Frank berikut ini pas banget, deh..


Post script:
Meski saya berharap Arka menjadi anak pencinta alam, bukan berarti hari-hari kami totally screen-free. Apa boleh buat, saya masih memasangkan Super Wings, Robocar Poli, Tayo The Little Bus, dan sejenisnya di layar TV kami, demi bisa memasak atau menyuapinya makan. 

IMHO, selama kita masih mengontrol materi dan durasi tontonan, it's alright..
Soalnya saya tipe emak yang realistis dan ga begitu idealis.
Mungkin ada ibu (atau bapak) yang sanggup menggendong anak sambil memasak. Atau mengejar-ngejar toddler sambil menyuapinya makan.
Sadly, that is everything i'm not..

Friday, August 21, 2015

Breastfeeding, The Loveliest Moment in My Life


ASI. Air Susu Ibu. Breastmilk.
Cairan ajaib yang menyokong kehidupan mamalia sejak usia 0 hari.
Moms & Dads pasti sudah pernah membaca mengenai ratusan kandungan senyawa berharga yang terkandung dalam Air Susu Ibu.

Setelah merasakan pengalaman menjadi anak non-ASI, saya bertekad untuk bisa memberikan ASI untuk anak saya. Demikianlah rencana yang saya cetuskan sejak kehamilan diketahui.

Hingga hari ini, tepat ketika bayi saya menginjak usia 19 bulan, thanx God, saya masih terus memberikan ASI. Bahkan, sampai sekarang saya masih belum tahu bagaimana cara menyapih yang pas untuk kami berdua.

Buahh! Memikirkannya saja membuat hati saya 'ngilu seperti patah hati..

Yeah.
Proses menyusui Arka mendapat tempat istimewa di hati saya.
Awalnya tak mudah. Sungguh penuh rintangan. Apalagi karena nafsu menyusu Arka sangat besar sejak newborn. Di sisi lain, latch on-nya masih kurang tepat.
Bisa dibilang, posisi latch on yang oke punya baru tercapai saat dia berumur 6 bulan lebih.
Tahu sendiri kan, apa akibat dari latch on yang tidak pas..

Begitu banyak manfaat menyusui bagi ibu dan bayinya. Saat browsing di internet, pasti Moms & Dads akan menemukan sejuta cerita berbeda tentang aktivitas menyusui dan serba-serbinya. According to my story..
Inilah beberapa alasan atau motivasi mengapa saya tetap berusaha menyusui meski muncul rintangan-rintangan di awal..
















1. Praktis
Entah mengapa, dari dulu saya paling anti dengan hal-hal yang ribet.
(Mungkin pada dasarnya memang malas saja).
Saya sulit sekali membayangkan harus membuat susu terlebih dahulu untuk membujuk bayi yang sedang menangis atau kesakitan. Apalagi kalau susunya perlu dipanaskan terlebih dulu. Apalagi kalau bayinya terbangun pagi buta? OMG. I'm sorry, i'm too lazy for that routine. Saya angkat topi setinggi-tingginya untuk para ortu yang menjalani rutinitas tersebut tiap hari. SALUT!

Kalau bisa memberi ASI 'kan tinggal CLEP. Voilà! Tersumpal deh, mulut si bayi.
(Kebetulan anak saya memang tipe yang langsung diam kalau dikasih yaya (baca: nenen)).

2. Ekonomis
Wah, kalau alasan yang satu ini sudah menjadi fakta sahih sehahih-sahihnya.
Misalnya, menurut Ketua AIMI, Mia Sutanto, dalam HealthDetik , program memberikan ASI tanpa sufor selama 2 tahun bisa menghemat uang sejumlah Rp25 juta. Well, jumlah yang lumayan besar kan?

3. Romantis
Ada hari-hari saat koneksi antara saya dengan anak tidak begitu 'nyambung.
Apalagi karena dia begitu sensitif dan termasuk ke dalam klan high-need baby.
Saat semua tindakan terasa salah, biasanya kami akan berbaring berdua.. dan.. melaksanakan "make up breastfeeding". Hehe. Maksudnya, yaya untuk baikan dan meredam emosi jiwa masing-masing.

Biasanya setelah yaya, mood kami berdua kembali oke sehingga komunikasi berjalan lebih lancar tanpa ada yang menjadi kesal dan tantrum. Perbaikan mood ini bisa terjadi karena proses menyusui akan memicu pelepasan hormon oksitosin. Mekanismenya bisa dicek di SINI.

Yep. Bagi saya, momen menyusui memang romantis. Tiada yang mengalahkan epic-nya ekspresi bayi saat lagi menyusu. Belum lagi kalau tangannya sudah mulai sibuk memainkan kancing (atau puting). Owh, cuteness overload!

Nah, saat anak mulai bisa mengekspresikan rasa sayang, biasanya dia akan memeluk atau merangkul gemas tubuh mommy-nya. Wiiih... Stop the time, please! Rasanya ingin dalam posisi ini selamanya. Heheheh..


4. All I can eat
Berdasarkan riset, proses menyusui bisa membakar hingga 500 kalori per hari. Hmmm..
Lumayan, yah?
Semakin rakus bayi Anda, berarti jumlah kalori yang terbuang akan semakin banyak. Bagi mommies yang doyan makan (seperti saya), ini merupakan karunia tak ternilai.
Ya Tuhan, karuniailah kami bayi-bayi yang rakus. Amiinn..

As for me, sebelum hamil berat badan 45 kg. Hingga kehamilan 9 bulan BB mencapai 52 kg. Sebulan setelah Arka lahir, 44 kg. Saat Arka umur 12 bulan, BB mencapai 42 kg.
Lumayan ya, buat bukti empiris..
Berat badan ini dicapai meski saya suka cemil-cemil cake dan sekotak martabak manis jam 23.00 ke atas, lho! Bahkan, saya jaraaaaaaaaaaangg sekali merasa kenyang meski sudah makan banyak. Menyusui dan mengurus anak membuat bobot badan jadi stabil (bahkan berkurang).

So. What are you waiting for, Ladies?

5. Natural beautifier 
Selama menyusui secara eksklusif, tidak ada jerawat yang berani timbul di wajah dan tubuh saya. Thanx to prolactin! 

Selama total 16 bulan sejak Arka lahir (2 tahun lebih sejak pertama hamil), saya dijauhkan dari nyeri haid. Thanx to prolactin again! Kebetulan siklus menstruasi saya baru kembali saat Arka berusia 1,5 tahun.

PLUS.
Di masa-masa ASI eksklusif, kulit terasa jadi lebih halus dan berkilap.
Ini karena kerja hormon dan asupan air minum yang lebih banyak.

Namun, sayangnya.. Jika asupan nutrien kita tidak cukup, efek sampingnya adalah rambut jadi mudah rontok. Akhirnya, saya memilih untuk (sedikit) memendekkan rambut demi menghindari kerontokan yang lebih parah..

Selain kerontokan rambut, rintangan yang di bawah ini juga cukup menegangkan.



Tetapi, thanx God....
Ternyata Arka tak pernah dengan sengaja menggigit nipple selain ketika tertidur dan rahangnya mengatup tanpa sengaja.

Well, that's all for today..
Let me hear your story, Moms & Dads!

PS:
Di bawah ini ada beberapa infografik yang menarik untuk disimak.
Check these out, Darl!
Fakta-fakta yang menarik. Pengen juga buat yang berdasarkan statistik di negara kita

Tolong disebarkan biar para bapak baca info ini, Moms!

This is what i called "sexy dad"

Amigurumi, The Art of Making Friends



Hello, Moms!
On this special blog post, we will talk about one of the most popular types of handicraft.
Crocheting. 
Well, i frustratingly hope to have a little ability to work in that kind of handicraft. 
Unfortunately, that talent only appears on my big sister.

She began knitting at the age of junior high school, around 2000. 
Finally, she opened an online store that sells a variety of knitted material and finished products. Such as doillies, dresses, hats, even bikini tops. 

You can check out the store HERE. 
There she also provides a pile of tips, tricks, & tutorials about the amazing world of crochet.
Here one of her tutorial..



In recent months, her main focus is producing amigurumi(s). 
Amigurumi? What is that thing?
Which one is the amigurumi?
Pink owl amigurumi for IDR 65K
White bunny amigurumi for IDR 180K

Lamb amigurumi for IDR 100K

Teddy bear amigurumi for IDR 165K



Yaiiyy! Such a cute critter, isn't it?
You guys can purchase it on her website HERE
Love you, all!

Friday, August 14, 2015

The Perks of Being Stay at Home Mom

Seperti biasa, blog post ini tidak bertujuan untuk menyerang kelompok manapun. Peace~




















Long time ago, the phrase "stay at home mom" (SAHM) sounded strange for me.
Pasalnya, sebagian besar sosok ibu-ibu di sekeliling saya masa itu merupakan working mom.
Jadilah saya berangan-angan ingin menjadi wanita karier juga jika dewasa.

Itu sebelum memasuki era globalisasi yang mengubah cara hidup kita dengan drastis.

Globalisasi dan global warming. Kedua hal tersebut mau tak mau mengubah lingkungan tempat kita tinggal menjadi tidak ideal bagi tumbuh-kembang anak.
Pada tahun 1990-an dulu, bisa dikatakan lingkungan rumah dan sekolah masih merupakan tempat yang aman dan nyaman. Pengaruh lingkungan yang negatif bisa dibilang minim.

Sayangnya, kini tidak seindah dulu. Lingkungan yang kurang baik dan lemahnya sistem bonding dengan ortu bisa membuat si anak tumbuh menjadi manusia yang tidak bahagia. Manusia yang tidak bahagia tentunya tidak bisa membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Kurang lebih itulah latar belakang saya memilih menjadi stay at home mom. Pokoknya saya harus stay at home, either mau bekerja part time dari rumah atau tidak.

Sayang sekali, awalnya tidak mudah menguatkan niat menjadi ibu yang tinggal di rumah. Of course, there are many things that we miss during SAHM-period. Apalagi kalau kita iseng tengok kiri, tengok kanan, melihat kesuksesan kolega serta teman sejawat. Wuih, lumayan iri jugak.. Tetapi, saya selalu berusaha mengingatkan diri bahwa "INI adalah PILIHAN SAYA SENDIRI". Dan akhirnya, cuma 'faith' yang sanggup membuat saya bertahan hingga kini.









































































Dulu, semasa Arka bayi (sekarang sudah mas-mas), kerjaan saya hanya komplain-komplain-mengeluh-komplain lagi mengenai kebosanan akibat jadi SAHM. Padahal, jadi SAHM sangat menyenangkan, loh~ Banyak sekali hal-hal positif yang hanya bisa dirasakan oleh SAHM (dan juga keluarganya). Sayangnya, butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari dan mensyukurinya..

1. Sayonara kalori dan lemak berlebih!
Mulai dari breastfeeding sampai main bersama anak membakar lemak dan kalori berlebih di tubuh kita. Apalagi bagi ibu-ibu yang punya toddler.
Dalam kasus Arka, dia butuh membuang energi yang didapat dari ASI (& makanan) itu dengan minimal sekali main di lapangan. Durasinya minimal 45 menit. Saya sih berharap bisa jadi penonton saja selama dia main. Tapiii... Kenyataannya kitalah yang berkeringat lebih heboh dibandingkan si anak.

Okey, belum lagi membahas masalah laundry dan masak-memasak. OPS! Jangan lupa tentang membereskan mainan yang tercecer di seluruh penjuru rumah..

2. Hemat (ditinjau dari berbagai bidang, termasuk hemat sabun mandi).
Hemat sabun mandi pastinya karena SAHM dalam sehari maksimal mandi sekali. Kadang kami menjalankan sistem "mandi a la Nabi Daud" juga.

Hemat uang, karena tidak perlu menyewa baby sitter atau ART. Tidak perlu bayar day care juga. Meskipun kadang 'ngiler juga ingin nonton bioskop lagi..







































3. Lebih kebal terhadap flu babu
Ibu-ibu yang jarang mengerjakan daily chores pasti kena flu babu saat ART-nya pulang kampung. Tapi, Si SAHM ini relatif lebih resisten terhadap flu babu karena sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang melelahkan.

4. Boboci bersama Si Kecil
Saat orang kantoran lagi tidur di mushola, para SAHM lagi merungkel di kasur bareng Si Kecil. Tidur siang itu enak banget, ya.. Nyem nyem nyem. Ettss.. Kami berhak mendapatkan bonus ini karena sepanjangan hari energi sudah terkuras akibat 'ngejer-ngejer anak supaya mau makan dan mau mandi, lohh~

5. Mengulang kembali masa kanak-kanak yang menyenangkan
Inilah yang paling saya sukai. Duh, senangnya bisa jalan-jalan sore sama little one(s). Main di bawah pohon, di lapangan rumput, taman bermain, atau cuma keliling-keliling iseng saja. Atau ke pusat perbelanjaan. Atau museum. Kegiatan bermain bersama ini bagus untuk menurunkan level stres sekaligus memicu kreativitas kita.

Sebisa mungkin, setiap sore kami berpetualang di luar rumah. Belajar tentang alam bersama toddler sungguh mengasyikkan. Dan menegangkan..


6. Menyaksikan semua "..... pertamanya"
Ini juga sangat berharga, menurut saya. Tengkurep pertama, raihan pertama, kata pertama, langkah pertama, panggilan "Bunda" pertama.. Ahhh.. Semua itu sangat priceless ya, Mom? Bahagia sekali bisa menyaksikannya tumbuh besar secara langsung.

7. Dokumentasi super lengkap mengenai perkembangannya
Hari-hari yang berlalu bersamanya kudu diabadikan, bisa dalam format foto maupun video. Sayangnya, kita jadi butuh hard disk dan atau stok DVD sepeti gara-gara file foto dan videonya membludaG.


"Yaya-time" = Nenen-time = Breastfeeding time

Anyway.
Dahulu, saya selalu menganggap bahwa sayalah heroine-nya karena telah mengorbankan karier demi mengurus anak. Tetapi, kalau dipikir-pikir, justru sayalah yang telah ditolong dan diberkahi kesempatan untuk tumbuh bersama Arka...

What do you think, Moms?

Thursday, July 2, 2015

For Future Pregnancy

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai masa-masa kehamilan. What a lovely time, back there.. Yep, terlepas dari kasus all-day-long sickness, back pain, skin rash, dan stiff-fingers tentunya. Namun, masih saja ada hal-hal yang perlu dievaluasi kemudian diperbaiki dari masa kehamilan yang pertama.

Well, kalau suatu hari nanti diberi kesempatan untuk hamil lagi, saya akan..
1. Banyak exercise plus relaksasi.
Tujuannya untuk mempermudah proses kelahiran nantinya.

2. Banyak beraktivitas outdoor dan melaksanakan hobi. Tentunya dalam batas kewajaran dan keamanan, yaah..
Soalnya, setelah punya newborn baby, bisa jadi aktivitas rutin kita cuma seputar ngurusin si bayi saja. Apalagi kalau tidak ada yang membantu.. Phieeww!

3. Makan yang banyakkkkkk dan yang sehaattttt!!
Sewaktu kehamilan pertama, berat badan yang semula 45 kg naik menjadi 57 kg. Itu pun sudah dengan membatasi porsi makan. Tetapi, akibatnya, tenaga menjadi cepat terkuras saat menjelang proses mengejan. Selain itu, selama hamil, saya jadi malas untuk melakukan APAPUN..

4. Mencari tempat latihan senam hamil yang informatif dan kooperatif dan peduli terhadap pesertanya. Ada saran atau rekomendasi tempat, Moms?
Dulu, saya menjadi peserta senam hamil di sebuah rumah sakit besar di daerah Bekasi. Sayangnya, bidan yang menjadi instruktur senam tidak pernah berganti orang selama saya mengikuti senam hamil di sana. Akibatnya, si bidan setengah hati memberikan instruksi-instruksi & bersikap pragmatis terhadap peserta senam hamil.

5. Stop mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu dikhawatirkan.
Misalnya, khawatir akan pup saat proses kelahiran.. Yang perlu dikhawatirkan itu adalah berapa menit waktu kita bisa memejamkan mata dalam damai pascakelahiran si bayi. Hehe..

Ada lagi yang perlu ditambahkan, Moms?
Let me hear a story about your pregnancy!
XOXO

Wednesday, April 29, 2015

Such a Crazy Family




















Sebelum menikah dan sebelum BabyZilla lahir, saya bukan family lady.
Setelah ia lahir, saya berharap bisa menjadi 'bukan family lady' lagi.
Tetapi, mustahil sepertinya..

Kini, selayaknya ibu-ibu di belahan dunia mana pun, keluarga menjadi prioritas utama di kehidupan.
Meski demikian, saya selalu berpikir (terutama di masa-masa sulit):
"Upaya menjalankan sebuah keluarga adalah hal yang paling ajaib. Butuh keajaiban. Sekaligus penuh keajaiban.."


Wednesday, March 25, 2015

Baby's 1st Beach Trip!































Langit biru cerah, pasir sewarna emas, dan belaian lembut angin...
Hmm.. Siapa yang sanggup menahan godaan laut?
Siapa yang mampu menahan godaan untuk sekadar nyemplung di laut dangkal dan bermain air bersama pasangan dan............. si bayi, tentunya!

Well, membawa makhluk yang membutuhkan banyak perhatian dari kita ke tepi laut memang agak tricky. Perlu niat dan persiapan yang cukup, kalau tak ingin liburan berubah menjadi siksaan..
Beberapa waktu yang lalu, pas di saat hujan mulai berkurang, keluarga kecil kami sempat berkunjung ke salah satu pantai di Jakarta.
Posting-an kali ini isinya sekadar sharing pengalaman dan saran tentang apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum berlibur ke pantai untuk pertama kalinya dengan si bayi~












1. The right place
Mommy & daddy tentunya tak ingin pengalaman pertama ke pantai bersama si bayi menjadi rusak karena pergi ke pantai yang salah (banyak 'mobil goyang', misalnya). Berikut ini kriteria pantai yang oke untuk dikunjungi bersama bayi dan atau balita.
a. Bersih dan nyaman (apalagi kalau pasirnya putih, nyaammm~)
b. Dekat dengan tempat makan (yang harganya make sense) dan toilet.
c. Ada life guard dan cocok untuk bermain air. Pantai yang kami kunjungi ini rupanya memang menjadi tempat favorit para ortu yang ingin mengajari balitanya berenang di laut. Senang, deh! Di Jakarta, bisa ke Ancol Beach Mall. IMHO, pantai ini sangat cocok utk baby's first beach trip.

2. The right time
a. Jangan pas musim hujan. Bermain pasir dan berenang di laut memang seru juga dilakukan saat hujan. Kalau mommy & daddy rela untuk merawat bayi demam keesokan harinya sih, gapapa.. Hehe.
b. Berangkat pagi hari lebih disarankan. Cuaca di pagi hari pastinya lebih sejuk dan sinar mentari masih belum terik. Sunburn memang seksi, cuma 'kan kasihan si bayi bisa dehidrasi..
c. Jangan awal bulan, yah.. Pasalnya, pantai cenderung menjadi sangat ramai karena sebagian besar ortu baru gajian.

3. The right outfit
a. Bagi si bayi, kaos yang nyaman dan adem cukup untuk bersantai di tepi pantai. Sebaiknya sih hindari baju yang modelnya ribet. Kalau untuk Arka, saya memilih mengenakan onesie lengan pendek. Alasannya, perut dan udel jadi aman tersembunyi tidak terpapar angin. Hehehe..
b. Celana pendek biasanya menjadi pilihan karena praktis dan memudahkan bayi untuk bergerak.
c. Topi. Benda ini sangat penting dibawa agar si bayi terhindar dari terik matahari. Malangnya, bayi saya tak pernah mau dipakaikan topi.. Hrrr.. Apa boleh buat, untuk mengakalinya, terpaksa deh cari tempat berleha-leha yang teduh.

4. Important things
Jangan lupa memasukkan benda-benda berikut ini ke dalam tas ya, Moms & Dads!
a. Sunscreen untuk ortu dan bayinya
b. Bedak bayi alias baby powder untuk menghilangkan pasir saat sudah selesai bermain.
c. Popok ganti. Memang yang lebih simple sih, bawa popok sekali pakai.. Tapii.. Ada juga ortu yang super niat membawa clodi ganti. Itu baru komitmen, namanya!! Huehehe..
d. Nursery cover atau apron menyusui. Masih jarang memang, pantai yang menyediakan ruang menyusui. Saat Arka minta menyusu, jadilah kami terpaksa ke mobil dulu. Why? Karena dia tipe bayi yang suka menyibakkan apron menyusui... Pfftt..
e. Handuk dan baju ganti untuk ortu dan bayi
f. Stroller atau baby carrier. Lebih asyik kalau membawa stroller yang bertudung demi melindungi kulit bayi dari paparan sinar ultraviolet.
g. Beach mat, lampit, tikar, atau alas duduk yang empuk.































5. Hungry tummy
a. Untuk bayi yang sudah MPASI, disarankan membawa buah biar gampang. IMHO, yang paling praktis adalah pisang. Selain itu, untuk bayi yg masih makan puree, sangat praktis jika memakai pouch feeding yang langsung menyatu dengan sendoknya.
b. Breastfeeding mommy sebaiknya membawa bekal minum air yang banyak. Ups, bawa cemilan sehat satu tas besar ya, Moms!

6. Slowly but sure
Jangan paksa bayi untuk langsung 'nyemplung ke laut. Arka yang baru 3 bulan bisa berjalan langsung miris saat diajak jalan di atas pasir. Mungkin dia berpikir, "Whaatt? Apa ini kasar-kasar di kakiku? Kok tanahnya seperti amblas??"..
Jadi, sebaiknya kita hanya mencontohkan saja. Biarkan mereka yang mengambil keputusan kapan akan mencoba sendiri.

Yep! Si Babyzilla nangis saat emaknya menjauh. Dia masih belum terbiasa dengan tekstur pasir, sepertinya..































7. Beach toys
a. Ini dia! Ortunya Arka memang agak bloon. Kami lupa membawa mainan pantai! Alhasil, Arka 'nunjuk-'nunjuk mainan balita lain. Ihh, kasihan sekali bayi ini!
b. Kalau niat banget bisa bawa baby pool. Next time patut dicoba, nih!














8. Keep the beach clean!
 Bawa plastik sampah dan tas khusus baju kotor.

9. Immortalize the moment
KAMERA. Jangan sampai lupa ya, Moms & Dads!


Saturday, February 21, 2015

Ping Pong Guy~


















Bayi saya yang tak bisa lepas dari nenen ini.. Sekarang sudah mau main ping-pong sendiri..
Betul ternyata kata orang bijak..

"The DAYS are LONG. But the YEARS are SHORT..."

Wednesday, February 18, 2015

Baby Blues Syndrome: Part 3

Hellooo, moms & dads!
Yuk, kita lanjutkan lagi obrolan tentang baby blues ini!
Sekarang kita memasuki bagian terakhir, ya!

Sewaktu Arka masih berwujud newborn, saya mengalami beberapa gejala klinis dari sindrom baby blues. Kebetulan, saya segera menyadarinya.
Well, ternyata "menyadari" saja belum mampu menghilangkan baby blues ini. Penderita baby blues membutuhkan pertolongan. Namun pertanyaannya, siapakah yang bisa menyembuhkan baby blues? Terapi apakah yang dibutuhkan?






























g. How To Beat It
General remedy..
1. Mintalah bantuan suami, ortu, mertua, serta saudara dalam mengurus si bayi. Bantuannya harus FOR REAL, ya! Jangan cuma omdo atau janji semu saja..

2. Tidurlah selagi ada kesempatan. Serius, tidurlah saat bayi tidur. Piring kotor bisa menunggu dengan sabar, koq! Btw, jika si bayi sangat suka meneror di tengah malam, coba pasanglah musik klasik. Dulu, Arka langsung tenang dan bobo nyenyak kalau dengar musik klasik (sekarang sih, ga ngaruh). Kita pun juga jadi rileks, 'kan...

3. Sering-sering sharing tentang keseharian kepada pasangan. Kalau mommies gak cerita, dijamin para Martian yang bebal itu akan mengira semuanya baik-baik saja.
Padahal... Seandainya mereka tahu...

4. Bergabunglah bersama komunitas ibu untuk berbagi pengalaman dan perasaan.
Baik secara real atau melalui internet.
Coba cek situs seperti Scary Mommy, Mommies Daily, The Urban Mama, etc..

5. Beri penjelasan kepada pasangan tentang baby blues syndrome, agar ia bisa memahami berbagai perubahan sikap dan tingkah laku Anda. Well, kadang baby blues malah menyerang si ayah, lho! Jadi tidak ada salahnya para lelaki ini di-briefing dulu.

6. Anyway, menurut pendapat saya pribadi, sosok yang paling bisa menyembuhkan baby blues adalah diri kita sendiri. Sahabat atau keluarga bisa berusaha keras menolong. Tetapi, tanpa kemauan keras dari diri sendiri untuk sembuh, usaha mereka untuk menolong kita akan sia-sia. Pada intinya, yang bisa menolong adalah sugesti positif dari diri kita.
Bagaimana cara memunculkan sugesti positif tersebut?

How to help yourself...
1. Tidak membiarkan diri terus menerus dalam kesedihan atau merasa tidak berdaya. Ini agak susah sih.. Tetapi, kita harus menekan perasaan self-pity sampai seminim mungkin, Moms!
Saya selalu mengingatkan diri sendiri, "Kalau mau menjadi heroine bagi si bayi, kita harus kuat (lahir & batin)!"..

2. Teguhkan hati & percaya bahwa kita bisa merawat dan mengasuh bayi. Kalaupun mommies sampai pada titik "aku tidak tahan lagi", percayalah bahwa Anda tidak sendirian. Ada suami, orang tua, atau anggota keluarga lain yang siap membantu. Asal kita meminta tolong...

3. Jangan lupa untuk selalu makan yang enak-enak! Soalnya, makan enak bisa jadi mood booster. Ups, dan makan yang sehat juga, ya. Apalagi kalau mommies berniat untuk memberikan ASI eksklusif.

4. Pijat dan luluran, yuuk! Pemijatan penting juga untuk memperlancar milk let down dan melemaskan otot-otot yang lelah pascalahiran. Juga penting untuk memperlancar sirkulasi darah, menghilangkan stress, dan memberikan energi positif. Kalau luluran? Hemmm.. Pastinya bikin hati senang dan percaya diri, ya!

5. Teruskan hobi Anda, ya! Sebisa mungkin jangan sampai ditinggalkan. Ini penting untuk refreshing! Lakukan hal-hal yang bikin mommies gembira.

6. Jika mommies merasa tidak mampu mengendalikan diri lagi, sepertinya perlu konsultasi pada psikiater atau psikolog. Apabila depresi yang Anda alami sudah sangat berat, psikiater biasanya akan menangani dengan obat antidepresan.

7. Anda juga bisa belajar cara penyembuhan diri dengan belajar teknik relaksasi, pernapasan, hipnosis diri (self-hypnosis), serta olah fisik plus pernapasan. Bisa juga merilekskan diri dengan bantuan aromaterapi.

8. Jangan lupa minum vitamin ya, Moms! Biasanya dokter kandungan kesayangan langsung memberikan multivitamin pascalahiran. Yuk, ingatkan diri untuk meminumnya..


Hey, superdads!
Para suami bisa memulai dari hal-hal yang kecil. Misalnya menanyakan kabar istrinya, atau mencarikan orang yang dapat membantunya mengurus rumah dan bayi. Dukungan sosial yang positif terbukti dapat membantu ibu melepaskan diri dari depresi pascapersalinan.




h. Tips Pencegahan
Yups, mencegah memang jauh lebih baik daripada mengobati, Moms!
Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan "sebelum" sindrom baby blues menancapkan taringnya..
Check this out, yow~

1. Mohon dukungan & bantuan keluarga untuk MERAWAT IBU dan BAYI.

2. Persiapkan mental (terutama) dan pengetahuan mommies seputar perawatan dan kesehatan bayi. Menurut saya, baca textbook saja kurang cukup. Bacalah juga blog-blog para ortu yang sudah lebih dulu mengalami suka-duka merawat newborn baby.

Paling penting: ketahuilah bahwa breastfeeding memang sulit pada awalnya. DAN newborn Anda akan sulit tidur selama beberapa minggu. Artinya, mommies juga akan sulit tidur (dan makan) selama beberapa waktu.. Sorry to say..

3. Beritahu pasangan bahwa bantuannya terutama sangat diharapkan dalam membesarkan anak.
4. Banyak-banyak berdoa. Have a big faith, Moms~
5. Tidak perlu terlalu perfeksionis dalam proses merawat bayi. Anyway, ini 'kan tipenya learning by doing. Atau, trial & error.. Jadi, tarik napas dan rileks ya, Moms!

Well.. Akhirnya tamat juga seri baby blues ini.
Sebenarnya, masih banyak lagi yang perlu dibahas.
Nah, gimana kalau kita 'ngobrol saja, yuuks!
Share pengalaman & info Anda seputar baby blues, yah!

Monday, February 16, 2015

Baby Blues Syndrome: Part 2


Kalau dipikir-pikir, jarang ada orang Indonesia yang mengakui bahwa ia menderita baby blues. Mungkin karena mengakui hal itu dianggap tabu kali, yah? Soalnya, para nenek kita sepertinya sangat tough, sampai-sampai tidak pernah mengalami baby blues. Mungkiiinn..

Banyak orang awam di negara kita menganggap serangan baby blues ini hanya mengada-ngada. Dikiranya 'kaya 'ngidam, kali? Bahkan, penderita baby blues sering kali dicap manja.
Atau mungkin, kita bakal dituduh "kurang bersyukur" kalau mengaku sedang menderita baby blues. Padahal, ini kasus medis yang ada penjelasan ilmiahnya, loh~

Beda dengan masyarakat di luar negeri sana. Sepertinya mereka tanpa ragu mengakui bahwa baby blues pernah atau sedang menjangkiti mereka. Hal ini terbukti dengan banyaknya website/blog/forum yang membahas secara terbuka tentang serba-serbi baby blues. Beberapa seleb juga tanpa ragu mengakui bahwa mereka pernah mengalami baby blues syndrome. Misalnya, Brooke Shields, Sadie Frost, Elle McPherson, dan Kate Winslet. Kisahnya justru menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi mommies lain..

b. Sejarah "Baby Blues"
Well, sebenarnya pada abad ke-5 SM, Hippocrates sudah me-record tentang baby blues. OMG!
Catatan medis yang ditulis beliau menyebutkan secara rinci perihal depresi ringan yang dialami oleh ibu yang baru melahirkan. Depresi ringan inilah yang menjadi cikal bakal sindrom baby blues.

Sayangnya, walau sudah dicatat dalam jurnal medis Hippocrates, sindrom baby blues ini tak terlalu dianggap penting. Meski banyak yang mengalaminya, sering hanya dianggap sebagai efek samping dari keletihan pascamelahirkan. Padahal, cukup banyak wanita yang mengalaminya.

c. Definisi Rinci 
Sindrom baby blues adalah gangguan emosi ringan terjadi dalam kurun waktu 2 minggu setelah ibu melahirkan. (Teorinya begitu, tapi saya sih mengalaminya selama plus minus 2 bulan).

Ada pula yang menyebutnya dengan istilah lain seperti maternity blues atau postpartum blues atau postpartum distress syndrome.
Menurut dr. Irawati Sp.Kj dalam majalah Parents Indonesia, sesuai dengan istilahnya, "blues", yang berarti keadaan tertekan, sindroma ini ditandai dengan gejala-gejala gangguan emosi seperti sering menangis, mudah marah, dan sensi.

d. Berbagai Faktor Penyebabnya
Munculnya berbagai gejala ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti berikut.

1. Misalnya, ketidaksiapan ibu menghadapi kelahiran bayinya. Ada ibu yang tidak menyadari kalau kelahiran seorang bayi selalu disertai dengan peningkatan tanggung jawab (yang superBESAR).

2. Rintangan dalam menyusui bayinya. Well, kita semua tahu bahwa breastfeeding memang tricky pada awalnya..

3. Menurut dr. Irawati Sp.Kj, faktor pencetus lain yang tidak kalah serius adalah sikap ibu dalam proses merawat bayi pascamelahirkan. Seringkali seorang ibu berharap bayi yang baru lahir akan tidur nyenyak di malam hari (saya banget ini, sih!). Padahal, realitanya....

4. Sindrom baby blues juga sangat mungkin terjadi oleh para ibu yang pernah mengalami trauma melahirkan atau mengalami kejadian yang sangat menyedihkan selama mengandung. Oleh karena itu, mommies yang mengalami depresi saat mengandung, atau pernah mengalami depresi sebelumnya lebih harus mendapatkan perhatian khusus karena memiliki peluang besar untuk mengalami sindrom baby blues.

5. Perubahan kadar hormon dalam sirkulasi darah secara drastis juga mempengaruhi kestabilan emosi. Selama hamil, hormon estrogen dan progresteron akan mengalami peningkatan. Hormon-hormon ini akan menurun tajam dalam tempo 72 jam setelah melahirkan. Nah, inilah yang memicu mood swing. Bayangkan, saat menstruasi saja kita sudah sangat sensitif. Apalagi pascamelahirkan?!!

6. Menurut saya, semakin perfeksionis & introvert seorang mommy, makin tinggi risikonya untuk mengalami baby blues.

Don't Worry!
Singkatnya kurun waktu dan sifatnya yang temporer membuat baby blues akan akan ‘sembuh’ dengan sendirinya tanpa perlu ditangani oleh tenaga medis. Pertolongan yang paling tepat, menurut dr. Arju Anita, adalah terapi psikologis. Dukungan moral dari lingkungan sekitarnya berperan penting dalam proses persembuhan si mommy.

e. The Signs
Para suami dan ayah, coba ceklah kondisi istri Anda. Apakah setelah kelahiran si bayi, sang ibu sering mengalami gejala seperti di bawah ini?




f. Berbeda dengan Postpartum Depression


Tips untuk membedakannya: 
Perhatikan pola tidur si ibu. Jika ketika ada orang lain menjaga bayi, si ibu bisa tertidur, maka besar kemungkinan si ibu hanya menderita baby blues. Namun, jika si ibu sangat sulit tertidur walaupun bayinya dijaga oleh orang lain, kemungkinan beliau sudah mengalami postpartum depression.. Kondisi inilah yang membutuhkan bantuan ahli..

Next:
Cara mencegah dan menangani baby blues!

Sunday, February 15, 2015

Baby Blues Syndrome: Part 1

















Mungkin banyak orang bertanya, "Kenapa sih, mommies yang baru punya anak mengalami baby blues?". Saya akan balik bertanya, "Well, kenapa nggak?"

Faktanya, 80% mommies (terutama yang baru lahiran), mengalami baby blues. Bahkan, ada 10% yang mengalami kegalauan tingkat lanjut yang disebut postpartum depression. Biasanya ini terjadi dalam periode tahun pertama setelah kelahiran anak.
Nah, untuk obrolan kali ini, saya batasi lingkupnya hanya sekitar baby blues saja, oke? Karena (alhamdulillah), yang saya rasakan hanya sampai tahap baby blues saja..

a. My Own Story
Honestly, pada saat akan dan beberapa waktu setelah menikah, saya hanya mempersiapkan diri untuk menjadi istri. Benar-benar belum siap untuk menjadi seorang ibu. Yep, salahnya di situ, tuh! Kurang persiapan...

Tak lama setelah mengetahui kehamilan, saya sibuk menjaga kesehatan tubuh dan si janin. Yaah, cari tahu juga tentang cara merawat bayi, sih. Sudah 'ngulik juga tentang kasus baby blues.
Sayangnya, membaca artikel tentang baby blues ternyata sangat berbeda dengan mengalaminya sendiri..

Waktu BabyZilla masih berupa newborn, wujudnya cenderung lebih "mengibakan" dibanding "lucu". Memang normalnya seekor, eh, seorang newborn baby berwujud merah-kecil-keriput dan tampak rapuh begitu, sih. Tapi tetap saja saya merasa khawatir, takut tak sengaja mematahkan lehernya atau menjatuhkannya saat menggendong. Maklum, namanya juga emak-emak amatir.

ASI yang baru keluar dengan lancar hari ke-4 pascalahiran memperparah kekhawatiran saya. Stres berat rasanya, takut ASI tidak sukses keluar selamanya. Bodohnya... Padahal, semakin stres kita, semakin ASI-nya ga keluar, 'kaann?

Oh, ya. Hari-hari tanpa tidur juga membuat pikiran semakin 'butek dan emosi semakin labil.

Plus. Tamu-tamu yang berkunjung ke rumah untuk menengok si bayi tak lupa membawa oleh-oleh berupa kisah seram tentang bayi yang meninggal mendadak pada umur beberapa hari. Gila, 'kan? Makin stres-lah kita.

Rasa khawatir dan stres yang sudah menumpuk itu bercampur dengan mood yang busuk akibat kurang tidur. Daaann! Simsalabim! Jadilah baby blues syndrome yang diwujudkan dengan perilaku sering nangis sesengukan tanpa sebab yang pasti, mudah kesal atau marah, kadang insomnia (padahal jam tidurnya juga sudah berkurang drastis)..

Momen yang paling terpatri di ingatan saya yakni saat suatu hari saya menangis sampai ingusan di hadapan Arka yang baru berumur 2 minggu (plis, jangan ditiru..). Sebabnya adalah karena malam sebelumnya beliau kolik & menangis tanpa henti sampai saya ketiduran. Saya kewalahan, merasa kalah, sendirian, dan tak berdaya karena gagal menemukan penyebab koliknya apa, juga tidak tahu obatnya apa.

Kalau saya pribadi sih, penyebab baby blues yang paling utama karena rasa tak berdaya dan kekhawatiran berlebih akibat diberi tanggung jawab untuk merawat seorang bayi yang juga tak berdaya. Ehm, kebetulan saya kebagian porsi merawat Arka sebanyak 99,89% (by myself, karena eyang & daddy-nya sibuk).
Aneh, ya? Padahal sebagai seorang dokter hewan 'kan seharusnya sudah biasa merawat sesuatu.
Hell. Ternyata beda banget merawat hewan dengan merawat bayi. Ha. Ha.
Jauh lebih mudah merawat puluhan ternak sekaligus dibanding merawat anak.
IMHO, loh~

Oh, iya! Perubahan bentuk tubuh setelah melahirkan juga membuat lumayan stres. Anehnya, saat hamil saya merasa langsing. Giliran penghuni rahim sudah keluar, saya merasa superlebarrrr..
Kaki yang tadinya cuma bengkak sedikit selama hamil, eh malah jadi bengkak hebat setelah Arka lahir. Muka juga chubby berat. Meski sudah memahami bahwa perubahan ini terjadi akibat fluktuasi hormon, tetap saja jadi minder. Rasanya malas bercermin karena ada wajah buruk menanti di sana. Iiiihhhh!

Dan ada lagi.
Selama beberapa minggu disibukkan mengurus bayi, saya jadi meninggalkan rutinitas lama (termasuk mandi, haha..). Media sosial juga sama sekali tidak membantu. Melihat rekan-rekan seperjuangan meraih prestasi baru, hati ini bukannya ikut senang, malah jadi sedih.

"I miss the old me. I lost myself..."
Itulah yang sering muncul dipikiran saya selama masa-masa kegelapan baby blues.
Bagaimana cara menemukan pintu keluar dari masa kegelapan ini?
Yuk, cek postingan berikutnya!

End note:
Well, kisah seputar baby blues yang dialami setiap ibu tentu berbeda.
Ada juga mommy yang mengalami baby blues karena merasa dirinya jadi tersingkir, kalah tenar dari si bayi. Apalagi kalau si bayi merupakan cucu pertama di keluarga. Wah, si ibu pasti dinomorsekiankan...

Seperti peribahasa yang saya karang:
"Selama hamil menjadi ratu. Setelah melahirkan, menjadi babu..."