Blame Pinterest & Youtube for this blogpost.
Banyak ortu-ortu trendi masa kini 'ngotot membuat 'homemade things' untuk anaknya (terutama yang masih bayi). Motifnya mungkin ingin menyediakan barang-barang yang aman bagi buah hati. Memang, bisa saja kita suspicious terhadap produk pabrikan yang komposisi bahannya wallahu'alam.Ada jutaan resep creativity games di Pinterest yang bisa kita coba di rumah.
Termasuk lilin (adonan sih, exactly) mainan atau play dough.
Yuk, kita cek apa saja sih, manfaat bermain play dough.
Sebenarnya sih, saya tidak termasuk ortu yang anti-barang-pabrikan.
Jadi, bisa saja sebenarnya jalan kaki ke toko bayi dekat rumah dan membeli produk play dough buatan pabrik.
Hanya saja, sewaktu menengok isi resep Homemade Play Dough di Youtube & Pinterest koq, rasanya mudah banget. Jadi ingin iseng-iseng mencoba.
Watch this hilarious tutorial on Youtube.
Dann..
TA-DAAA~
100% homemade play dough.
50% satisfaction of the result (according to me).
60% excitement of the baby.
70% works to clean up the mess.
The Result
1. Saya mengharapkan play dough yang lembut dan mudah dibentuk. Namun, untuk resep tersebut, kita harus menambahkan minyak dalam jumlah cukup banyak. Efeknya, alas bermain jadi menyerap minyak. Euuww~
Padahal saya sudah meletakkan kertas kalendar bekas yang cukup glossy.
Di lain waktu saya menggunakan talenan sebagai alas.
2. Entahlah, mungkin merek bahan pewarna yang saya gunakan kurang yahud. Rasanya di Pinterest sana koq, tampak cantiiiik sekali warna-warninya. Sedangkan, play dough saya warnanyaaa...
(Apa standar saya yang terlalu tinggi, ya?)
Sempat terpikir, warna yang n'demek ini bisa jadi karena menggunakan minyak yang berwarna kekuningan. Mungkin di lain waktu saya akan mencoba menggunakan minyak kelapa. (Tapi akhirnya, ongkos produksi jauh melebihi harga play dough pabrikan..)
3. Saat saya mencoba mencetak si homemade playdough ini dengan menggunakan Cute Cutter dari dough pabrik (bukan cookie cutter), hasilnya mengerikan! Adonannya terlalu lunak sehingga gambar tidak tercetak dengan sempurna. Adonan ini bisa sukses dibentuk dengan menggunakan cookie cutter atau mainan shapes milik si bayi.
4. Untungnya, si adonan ini bisa disimpan dalam kantong ziplock tanpa menjadi tengik dan keras. Lewat dua minggu sejak waktu produksi, si adonan masih bisa dipakai bermain.
5. Anyway, memang semestinya para ortu bermain play dough dengan anak berusia 2 tahun ke atas.
Karena, di bawah itu, mereka biasanya menjadi destroyer.. Haha!
Seperti Arka, saat ibunya membuat teddy bear, dia menancapkan ranting-ranting pohon sehingga hasil akhirnya malah menjadi Voodoo Teddy Bear.
Jangan tanya mengapa tidak ada bentuk bunga.
Saat mahkota bunga baru jadi sebagian, sudah hancur bunganya dilindas truk milik Arka..
Goodness gracious..
6. Tetapi setidaknya, play dough ini tidak akan menjadi masalah jika tertelan.
Dan lumayan mengasyikkan sebagai bahan permainan indoor jika musim hujan tiba..
![]() |
| Beberapa hasil karya yang dibuat dengan waktu < 1 menit untuk menghindari tangan usil Arka |
The Conclusion
Homemade play dough ini cocok digunakan untuk permainan menghias dengan berbagai aksesoris. Misalnya, ranting pohon, manik-manik, bebatuan kecil, kancing, kerang, mata untuk boneka, dan sebagainya.
Sayangnya, jika Moms & Dads mengharapkan bisa membuat kue ultah cantik a la Play Doh, sepertinya tidak bisa. Hehehe..
Sekali lagi, ada baiknya jika memainkan play dough ini bersama anak usia 2 tahun atau lebih. Berdasarkan pengalaman saya, anak di bawah 2 tahun belum begitu tertarik dan belum memahami asyiknya memainkan play dough.
Baiklah, mungkin saya akan kembali membuat play dough saat Arka sudah lebih besar nanti.
Amen.
![]() |
| Salam dari lelaki bercawat pink.. |




No comments:
Post a Comment