Monday, February 16, 2015

Baby Blues Syndrome: Part 2


Kalau dipikir-pikir, jarang ada orang Indonesia yang mengakui bahwa ia menderita baby blues. Mungkin karena mengakui hal itu dianggap tabu kali, yah? Soalnya, para nenek kita sepertinya sangat tough, sampai-sampai tidak pernah mengalami baby blues. Mungkiiinn..

Banyak orang awam di negara kita menganggap serangan baby blues ini hanya mengada-ngada. Dikiranya 'kaya 'ngidam, kali? Bahkan, penderita baby blues sering kali dicap manja.
Atau mungkin, kita bakal dituduh "kurang bersyukur" kalau mengaku sedang menderita baby blues. Padahal, ini kasus medis yang ada penjelasan ilmiahnya, loh~

Beda dengan masyarakat di luar negeri sana. Sepertinya mereka tanpa ragu mengakui bahwa baby blues pernah atau sedang menjangkiti mereka. Hal ini terbukti dengan banyaknya website/blog/forum yang membahas secara terbuka tentang serba-serbi baby blues. Beberapa seleb juga tanpa ragu mengakui bahwa mereka pernah mengalami baby blues syndrome. Misalnya, Brooke Shields, Sadie Frost, Elle McPherson, dan Kate Winslet. Kisahnya justru menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi mommies lain..

b. Sejarah "Baby Blues"
Well, sebenarnya pada abad ke-5 SM, Hippocrates sudah me-record tentang baby blues. OMG!
Catatan medis yang ditulis beliau menyebutkan secara rinci perihal depresi ringan yang dialami oleh ibu yang baru melahirkan. Depresi ringan inilah yang menjadi cikal bakal sindrom baby blues.

Sayangnya, walau sudah dicatat dalam jurnal medis Hippocrates, sindrom baby blues ini tak terlalu dianggap penting. Meski banyak yang mengalaminya, sering hanya dianggap sebagai efek samping dari keletihan pascamelahirkan. Padahal, cukup banyak wanita yang mengalaminya.

c. Definisi Rinci 
Sindrom baby blues adalah gangguan emosi ringan terjadi dalam kurun waktu 2 minggu setelah ibu melahirkan. (Teorinya begitu, tapi saya sih mengalaminya selama plus minus 2 bulan).

Ada pula yang menyebutnya dengan istilah lain seperti maternity blues atau postpartum blues atau postpartum distress syndrome.
Menurut dr. Irawati Sp.Kj dalam majalah Parents Indonesia, sesuai dengan istilahnya, "blues", yang berarti keadaan tertekan, sindroma ini ditandai dengan gejala-gejala gangguan emosi seperti sering menangis, mudah marah, dan sensi.

d. Berbagai Faktor Penyebabnya
Munculnya berbagai gejala ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti berikut.

1. Misalnya, ketidaksiapan ibu menghadapi kelahiran bayinya. Ada ibu yang tidak menyadari kalau kelahiran seorang bayi selalu disertai dengan peningkatan tanggung jawab (yang superBESAR).

2. Rintangan dalam menyusui bayinya. Well, kita semua tahu bahwa breastfeeding memang tricky pada awalnya..

3. Menurut dr. Irawati Sp.Kj, faktor pencetus lain yang tidak kalah serius adalah sikap ibu dalam proses merawat bayi pascamelahirkan. Seringkali seorang ibu berharap bayi yang baru lahir akan tidur nyenyak di malam hari (saya banget ini, sih!). Padahal, realitanya....

4. Sindrom baby blues juga sangat mungkin terjadi oleh para ibu yang pernah mengalami trauma melahirkan atau mengalami kejadian yang sangat menyedihkan selama mengandung. Oleh karena itu, mommies yang mengalami depresi saat mengandung, atau pernah mengalami depresi sebelumnya lebih harus mendapatkan perhatian khusus karena memiliki peluang besar untuk mengalami sindrom baby blues.

5. Perubahan kadar hormon dalam sirkulasi darah secara drastis juga mempengaruhi kestabilan emosi. Selama hamil, hormon estrogen dan progresteron akan mengalami peningkatan. Hormon-hormon ini akan menurun tajam dalam tempo 72 jam setelah melahirkan. Nah, inilah yang memicu mood swing. Bayangkan, saat menstruasi saja kita sudah sangat sensitif. Apalagi pascamelahirkan?!!

6. Menurut saya, semakin perfeksionis & introvert seorang mommy, makin tinggi risikonya untuk mengalami baby blues.

Don't Worry!
Singkatnya kurun waktu dan sifatnya yang temporer membuat baby blues akan akan ‘sembuh’ dengan sendirinya tanpa perlu ditangani oleh tenaga medis. Pertolongan yang paling tepat, menurut dr. Arju Anita, adalah terapi psikologis. Dukungan moral dari lingkungan sekitarnya berperan penting dalam proses persembuhan si mommy.

e. The Signs
Para suami dan ayah, coba ceklah kondisi istri Anda. Apakah setelah kelahiran si bayi, sang ibu sering mengalami gejala seperti di bawah ini?




f. Berbeda dengan Postpartum Depression


Tips untuk membedakannya: 
Perhatikan pola tidur si ibu. Jika ketika ada orang lain menjaga bayi, si ibu bisa tertidur, maka besar kemungkinan si ibu hanya menderita baby blues. Namun, jika si ibu sangat sulit tertidur walaupun bayinya dijaga oleh orang lain, kemungkinan beliau sudah mengalami postpartum depression.. Kondisi inilah yang membutuhkan bantuan ahli..

Next:
Cara mencegah dan menangani baby blues!

No comments:

Post a Comment