Friday, August 14, 2015

The Perks of Being Stay at Home Mom

Seperti biasa, blog post ini tidak bertujuan untuk menyerang kelompok manapun. Peace~




















Long time ago, the phrase "stay at home mom" (SAHM) sounded strange for me.
Pasalnya, sebagian besar sosok ibu-ibu di sekeliling saya masa itu merupakan working mom.
Jadilah saya berangan-angan ingin menjadi wanita karier juga jika dewasa.

Itu sebelum memasuki era globalisasi yang mengubah cara hidup kita dengan drastis.

Globalisasi dan global warming. Kedua hal tersebut mau tak mau mengubah lingkungan tempat kita tinggal menjadi tidak ideal bagi tumbuh-kembang anak.
Pada tahun 1990-an dulu, bisa dikatakan lingkungan rumah dan sekolah masih merupakan tempat yang aman dan nyaman. Pengaruh lingkungan yang negatif bisa dibilang minim.

Sayangnya, kini tidak seindah dulu. Lingkungan yang kurang baik dan lemahnya sistem bonding dengan ortu bisa membuat si anak tumbuh menjadi manusia yang tidak bahagia. Manusia yang tidak bahagia tentunya tidak bisa membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Kurang lebih itulah latar belakang saya memilih menjadi stay at home mom. Pokoknya saya harus stay at home, either mau bekerja part time dari rumah atau tidak.

Sayang sekali, awalnya tidak mudah menguatkan niat menjadi ibu yang tinggal di rumah. Of course, there are many things that we miss during SAHM-period. Apalagi kalau kita iseng tengok kiri, tengok kanan, melihat kesuksesan kolega serta teman sejawat. Wuih, lumayan iri jugak.. Tetapi, saya selalu berusaha mengingatkan diri bahwa "INI adalah PILIHAN SAYA SENDIRI". Dan akhirnya, cuma 'faith' yang sanggup membuat saya bertahan hingga kini.









































































Dulu, semasa Arka bayi (sekarang sudah mas-mas), kerjaan saya hanya komplain-komplain-mengeluh-komplain lagi mengenai kebosanan akibat jadi SAHM. Padahal, jadi SAHM sangat menyenangkan, loh~ Banyak sekali hal-hal positif yang hanya bisa dirasakan oleh SAHM (dan juga keluarganya). Sayangnya, butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari dan mensyukurinya..

1. Sayonara kalori dan lemak berlebih!
Mulai dari breastfeeding sampai main bersama anak membakar lemak dan kalori berlebih di tubuh kita. Apalagi bagi ibu-ibu yang punya toddler.
Dalam kasus Arka, dia butuh membuang energi yang didapat dari ASI (& makanan) itu dengan minimal sekali main di lapangan. Durasinya minimal 45 menit. Saya sih berharap bisa jadi penonton saja selama dia main. Tapiii... Kenyataannya kitalah yang berkeringat lebih heboh dibandingkan si anak.

Okey, belum lagi membahas masalah laundry dan masak-memasak. OPS! Jangan lupa tentang membereskan mainan yang tercecer di seluruh penjuru rumah..

2. Hemat (ditinjau dari berbagai bidang, termasuk hemat sabun mandi).
Hemat sabun mandi pastinya karena SAHM dalam sehari maksimal mandi sekali. Kadang kami menjalankan sistem "mandi a la Nabi Daud" juga.

Hemat uang, karena tidak perlu menyewa baby sitter atau ART. Tidak perlu bayar day care juga. Meskipun kadang 'ngiler juga ingin nonton bioskop lagi..







































3. Lebih kebal terhadap flu babu
Ibu-ibu yang jarang mengerjakan daily chores pasti kena flu babu saat ART-nya pulang kampung. Tapi, Si SAHM ini relatif lebih resisten terhadap flu babu karena sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang melelahkan.

4. Boboci bersama Si Kecil
Saat orang kantoran lagi tidur di mushola, para SAHM lagi merungkel di kasur bareng Si Kecil. Tidur siang itu enak banget, ya.. Nyem nyem nyem. Ettss.. Kami berhak mendapatkan bonus ini karena sepanjangan hari energi sudah terkuras akibat 'ngejer-ngejer anak supaya mau makan dan mau mandi, lohh~

5. Mengulang kembali masa kanak-kanak yang menyenangkan
Inilah yang paling saya sukai. Duh, senangnya bisa jalan-jalan sore sama little one(s). Main di bawah pohon, di lapangan rumput, taman bermain, atau cuma keliling-keliling iseng saja. Atau ke pusat perbelanjaan. Atau museum. Kegiatan bermain bersama ini bagus untuk menurunkan level stres sekaligus memicu kreativitas kita.

Sebisa mungkin, setiap sore kami berpetualang di luar rumah. Belajar tentang alam bersama toddler sungguh mengasyikkan. Dan menegangkan..


6. Menyaksikan semua "..... pertamanya"
Ini juga sangat berharga, menurut saya. Tengkurep pertama, raihan pertama, kata pertama, langkah pertama, panggilan "Bunda" pertama.. Ahhh.. Semua itu sangat priceless ya, Mom? Bahagia sekali bisa menyaksikannya tumbuh besar secara langsung.

7. Dokumentasi super lengkap mengenai perkembangannya
Hari-hari yang berlalu bersamanya kudu diabadikan, bisa dalam format foto maupun video. Sayangnya, kita jadi butuh hard disk dan atau stok DVD sepeti gara-gara file foto dan videonya membludaG.


"Yaya-time" = Nenen-time = Breastfeeding time

Anyway.
Dahulu, saya selalu menganggap bahwa sayalah heroine-nya karena telah mengorbankan karier demi mengurus anak. Tetapi, kalau dipikir-pikir, justru sayalah yang telah ditolong dan diberkahi kesempatan untuk tumbuh bersama Arka...

What do you think, Moms?

No comments:

Post a Comment