Wednesday, October 7, 2015

It's My Adventure. Not Yours. Period.

I'm really sorry to post this kind of defensive writing.
It's not much inspiring.
But somehow i think it's necessary.

Well..
I like to hang out with my old friends (single/married/with child/without child).
But sometimes it's not as easy as you think. 
Beside the schedule-matching thing, of course.

My college friends are the harder to meet. And to cope with.
It is strange.
Somehow, the topic of success and career has always been an important issue to them.

Saya sih, cukup puas dengan menjadi pendengar saja.
Terutama kalau ada kisah & pengalaman yang lumayan inspiring.
Tetapi, kadang mereka tidak puas kalau tidak "nyinyir" terhadap kehidupan orang lain.
Saya pun tak lepas dari kenyinyiran mereka.

Contohnya, kalimat berikut ini.
"Sayang ya, kalau 'dia' (baca: saya) hanya di rumah saja. Sayang ilmunya tidak terpakai dan malah terlupakan."

Well, honestly... Ilmu yang saya dapatkan selama 5 tahun lebih kuliah di veterinary medicine sama sekali tidak tersia-siakan.
Misalnya saja, cara memasak bahan pangan yang benar, kebersihan rumah & peralatannya, cara cuci tangan, serba-serbi dairy products, serta mekanisme kerja obat-obatan
Nah, yang terakhir ini sangat penting, terutama waktu si kecil sakit.
Yang tidak kalah penting adalah mengenalkan indahnya dunia satwa sejak dini kepada si kecil.
Semua ilmu dari masa kuliah tersebut masih saya praktikkan setiap hari.

Hmm.. Berarti, mungkin yang berkomentar seperti di atas itu tidak memakai ilmunya untuk membesarkan anak dan mengurus keluarga.

Anyway, as for me, saya sudah memilih untuk kerja di rumah sejak masa Koas.
Saat itulah saya melihat betapa sibuknya dunia kerja dokter hewan.
Saya yang bercermin dari masa kecil dengan workaholic parent, langsung berpikir, "Lebih baik saya bekerja dari rumah, dengan berwirausaha, misalnya."

Intinya adalah, my friends, saya memang sudah merencanakan untuk "di rumah saja".
Saya bukannya terpaksa merumahkan diri karena disuruh suami. No, no, no..
Berulang kali saya mencoba memvisualisasikan realitas alternatif.
Misalnya, saya menyewa baby sitter.
Atau menitipkan anak ke ortu.
Hmmm.. Saya tidak akan sanggup menjalaninya.
Apalagi, banyak sekali ilmu yang perlu dipelajari tentang parenting.
Banyyaaakkk sekaliii!!
Dan saya tipe yang tidak sanggup mengorbankan parenthood demi mengejar karier.
Saya loh, ya~

Jadi, kesimpulannya.
Selama saya bisa (dan Tuhan merestui) mengasuh anak sendiri, saya akan "di rumah saja".
So just shut your 'nyinyir mouth.

No comments:

Post a Comment