Friday, August 21, 2015

Breastfeeding, The Loveliest Moment in My Life


ASI. Air Susu Ibu. Breastmilk.
Cairan ajaib yang menyokong kehidupan mamalia sejak usia 0 hari.
Moms & Dads pasti sudah pernah membaca mengenai ratusan kandungan senyawa berharga yang terkandung dalam Air Susu Ibu.

Setelah merasakan pengalaman menjadi anak non-ASI, saya bertekad untuk bisa memberikan ASI untuk anak saya. Demikianlah rencana yang saya cetuskan sejak kehamilan diketahui.

Hingga hari ini, tepat ketika bayi saya menginjak usia 19 bulan, thanx God, saya masih terus memberikan ASI. Bahkan, sampai sekarang saya masih belum tahu bagaimana cara menyapih yang pas untuk kami berdua.

Buahh! Memikirkannya saja membuat hati saya 'ngilu seperti patah hati..

Yeah.
Proses menyusui Arka mendapat tempat istimewa di hati saya.
Awalnya tak mudah. Sungguh penuh rintangan. Apalagi karena nafsu menyusu Arka sangat besar sejak newborn. Di sisi lain, latch on-nya masih kurang tepat.
Bisa dibilang, posisi latch on yang oke punya baru tercapai saat dia berumur 6 bulan lebih.
Tahu sendiri kan, apa akibat dari latch on yang tidak pas..

Begitu banyak manfaat menyusui bagi ibu dan bayinya. Saat browsing di internet, pasti Moms & Dads akan menemukan sejuta cerita berbeda tentang aktivitas menyusui dan serba-serbinya. According to my story..
Inilah beberapa alasan atau motivasi mengapa saya tetap berusaha menyusui meski muncul rintangan-rintangan di awal..
















1. Praktis
Entah mengapa, dari dulu saya paling anti dengan hal-hal yang ribet.
(Mungkin pada dasarnya memang malas saja).
Saya sulit sekali membayangkan harus membuat susu terlebih dahulu untuk membujuk bayi yang sedang menangis atau kesakitan. Apalagi kalau susunya perlu dipanaskan terlebih dulu. Apalagi kalau bayinya terbangun pagi buta? OMG. I'm sorry, i'm too lazy for that routine. Saya angkat topi setinggi-tingginya untuk para ortu yang menjalani rutinitas tersebut tiap hari. SALUT!

Kalau bisa memberi ASI 'kan tinggal CLEP. VoilĂ ! Tersumpal deh, mulut si bayi.
(Kebetulan anak saya memang tipe yang langsung diam kalau dikasih yaya (baca: nenen)).

2. Ekonomis
Wah, kalau alasan yang satu ini sudah menjadi fakta sahih sehahih-sahihnya.
Misalnya, menurut Ketua AIMI, Mia Sutanto, dalam HealthDetik , program memberikan ASI tanpa sufor selama 2 tahun bisa menghemat uang sejumlah Rp25 juta. Well, jumlah yang lumayan besar kan?

3. Romantis
Ada hari-hari saat koneksi antara saya dengan anak tidak begitu 'nyambung.
Apalagi karena dia begitu sensitif dan termasuk ke dalam klan high-need baby.
Saat semua tindakan terasa salah, biasanya kami akan berbaring berdua.. dan.. melaksanakan "make up breastfeeding". Hehe. Maksudnya, yaya untuk baikan dan meredam emosi jiwa masing-masing.

Biasanya setelah yaya, mood kami berdua kembali oke sehingga komunikasi berjalan lebih lancar tanpa ada yang menjadi kesal dan tantrum. Perbaikan mood ini bisa terjadi karena proses menyusui akan memicu pelepasan hormon oksitosin. Mekanismenya bisa dicek di SINI.

Yep. Bagi saya, momen menyusui memang romantis. Tiada yang mengalahkan epic-nya ekspresi bayi saat lagi menyusu. Belum lagi kalau tangannya sudah mulai sibuk memainkan kancing (atau puting). Owh, cuteness overload!

Nah, saat anak mulai bisa mengekspresikan rasa sayang, biasanya dia akan memeluk atau merangkul gemas tubuh mommy-nya. Wiiih... Stop the time, please! Rasanya ingin dalam posisi ini selamanya. Heheheh..


4. All I can eat
Berdasarkan riset, proses menyusui bisa membakar hingga 500 kalori per hari. Hmmm..
Lumayan, yah?
Semakin rakus bayi Anda, berarti jumlah kalori yang terbuang akan semakin banyak. Bagi mommies yang doyan makan (seperti saya), ini merupakan karunia tak ternilai.
Ya Tuhan, karuniailah kami bayi-bayi yang rakus. Amiinn..

As for me, sebelum hamil berat badan 45 kg. Hingga kehamilan 9 bulan BB mencapai 52 kg. Sebulan setelah Arka lahir, 44 kg. Saat Arka umur 12 bulan, BB mencapai 42 kg.
Lumayan ya, buat bukti empiris..
Berat badan ini dicapai meski saya suka cemil-cemil cake dan sekotak martabak manis jam 23.00 ke atas, lho! Bahkan, saya jaraaaaaaaaaaangg sekali merasa kenyang meski sudah makan banyak. Menyusui dan mengurus anak membuat bobot badan jadi stabil (bahkan berkurang).

So. What are you waiting for, Ladies?

5. Natural beautifier 
Selama menyusui secara eksklusif, tidak ada jerawat yang berani timbul di wajah dan tubuh saya. Thanx to prolactin! 

Selama total 16 bulan sejak Arka lahir (2 tahun lebih sejak pertama hamil), saya dijauhkan dari nyeri haid. Thanx to prolactin again! Kebetulan siklus menstruasi saya baru kembali saat Arka berusia 1,5 tahun.

PLUS.
Di masa-masa ASI eksklusif, kulit terasa jadi lebih halus dan berkilap.
Ini karena kerja hormon dan asupan air minum yang lebih banyak.

Namun, sayangnya.. Jika asupan nutrien kita tidak cukup, efek sampingnya adalah rambut jadi mudah rontok. Akhirnya, saya memilih untuk (sedikit) memendekkan rambut demi menghindari kerontokan yang lebih parah..

Selain kerontokan rambut, rintangan yang di bawah ini juga cukup menegangkan.



Tetapi, thanx God....
Ternyata Arka tak pernah dengan sengaja menggigit nipple selain ketika tertidur dan rahangnya mengatup tanpa sengaja.

Well, that's all for today..
Let me hear your story, Moms & Dads!

PS:
Di bawah ini ada beberapa infografik yang menarik untuk disimak.
Check these out, Darl!
Fakta-fakta yang menarik. Pengen juga buat yang berdasarkan statistik di negara kita

Tolong disebarkan biar para bapak baca info ini, Moms!

This is what i called "sexy dad"

Amigurumi, The Art of Making Friends



Hello, Moms!
On this special blog post, we will talk about one of the most popular types of handicraft.
Crocheting. 
Well, i frustratingly hope to have a little ability to work in that kind of handicraft. 
Unfortunately, that talent only appears on my big sister.

She began knitting at the age of junior high school, around 2000. 
Finally, she opened an online store that sells a variety of knitted material and finished products. Such as doillies, dresses, hats, even bikini tops. 

You can check out the store HERE. 
There she also provides a pile of tips, tricks, & tutorials about the amazing world of crochet.
Here one of her tutorial..



In recent months, her main focus is producing amigurumi(s). 
Amigurumi? What is that thing?
Which one is the amigurumi?
Pink owl amigurumi for IDR 65K
White bunny amigurumi for IDR 180K

Lamb amigurumi for IDR 100K

Teddy bear amigurumi for IDR 165K



Yaiiyy! Such a cute critter, isn't it?
You guys can purchase it on her website HERE
Love you, all!

Friday, August 14, 2015

The Perks of Being Stay at Home Mom

Seperti biasa, blog post ini tidak bertujuan untuk menyerang kelompok manapun. Peace~




















Long time ago, the phrase "stay at home mom" (SAHM) sounded strange for me.
Pasalnya, sebagian besar sosok ibu-ibu di sekeliling saya masa itu merupakan working mom.
Jadilah saya berangan-angan ingin menjadi wanita karier juga jika dewasa.

Itu sebelum memasuki era globalisasi yang mengubah cara hidup kita dengan drastis.

Globalisasi dan global warming. Kedua hal tersebut mau tak mau mengubah lingkungan tempat kita tinggal menjadi tidak ideal bagi tumbuh-kembang anak.
Pada tahun 1990-an dulu, bisa dikatakan lingkungan rumah dan sekolah masih merupakan tempat yang aman dan nyaman. Pengaruh lingkungan yang negatif bisa dibilang minim.

Sayangnya, kini tidak seindah dulu. Lingkungan yang kurang baik dan lemahnya sistem bonding dengan ortu bisa membuat si anak tumbuh menjadi manusia yang tidak bahagia. Manusia yang tidak bahagia tentunya tidak bisa membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Kurang lebih itulah latar belakang saya memilih menjadi stay at home mom. Pokoknya saya harus stay at home, either mau bekerja part time dari rumah atau tidak.

Sayang sekali, awalnya tidak mudah menguatkan niat menjadi ibu yang tinggal di rumah. Of course, there are many things that we miss during SAHM-period. Apalagi kalau kita iseng tengok kiri, tengok kanan, melihat kesuksesan kolega serta teman sejawat. Wuih, lumayan iri jugak.. Tetapi, saya selalu berusaha mengingatkan diri bahwa "INI adalah PILIHAN SAYA SENDIRI". Dan akhirnya, cuma 'faith' yang sanggup membuat saya bertahan hingga kini.









































































Dulu, semasa Arka bayi (sekarang sudah mas-mas), kerjaan saya hanya komplain-komplain-mengeluh-komplain lagi mengenai kebosanan akibat jadi SAHM. Padahal, jadi SAHM sangat menyenangkan, loh~ Banyak sekali hal-hal positif yang hanya bisa dirasakan oleh SAHM (dan juga keluarganya). Sayangnya, butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari dan mensyukurinya..

1. Sayonara kalori dan lemak berlebih!
Mulai dari breastfeeding sampai main bersama anak membakar lemak dan kalori berlebih di tubuh kita. Apalagi bagi ibu-ibu yang punya toddler.
Dalam kasus Arka, dia butuh membuang energi yang didapat dari ASI (& makanan) itu dengan minimal sekali main di lapangan. Durasinya minimal 45 menit. Saya sih berharap bisa jadi penonton saja selama dia main. Tapiii... Kenyataannya kitalah yang berkeringat lebih heboh dibandingkan si anak.

Okey, belum lagi membahas masalah laundry dan masak-memasak. OPS! Jangan lupa tentang membereskan mainan yang tercecer di seluruh penjuru rumah..

2. Hemat (ditinjau dari berbagai bidang, termasuk hemat sabun mandi).
Hemat sabun mandi pastinya karena SAHM dalam sehari maksimal mandi sekali. Kadang kami menjalankan sistem "mandi a la Nabi Daud" juga.

Hemat uang, karena tidak perlu menyewa baby sitter atau ART. Tidak perlu bayar day care juga. Meskipun kadang 'ngiler juga ingin nonton bioskop lagi..







































3. Lebih kebal terhadap flu babu
Ibu-ibu yang jarang mengerjakan daily chores pasti kena flu babu saat ART-nya pulang kampung. Tapi, Si SAHM ini relatif lebih resisten terhadap flu babu karena sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang melelahkan.

4. Boboci bersama Si Kecil
Saat orang kantoran lagi tidur di mushola, para SAHM lagi merungkel di kasur bareng Si Kecil. Tidur siang itu enak banget, ya.. Nyem nyem nyem. Ettss.. Kami berhak mendapatkan bonus ini karena sepanjangan hari energi sudah terkuras akibat 'ngejer-ngejer anak supaya mau makan dan mau mandi, lohh~

5. Mengulang kembali masa kanak-kanak yang menyenangkan
Inilah yang paling saya sukai. Duh, senangnya bisa jalan-jalan sore sama little one(s). Main di bawah pohon, di lapangan rumput, taman bermain, atau cuma keliling-keliling iseng saja. Atau ke pusat perbelanjaan. Atau museum. Kegiatan bermain bersama ini bagus untuk menurunkan level stres sekaligus memicu kreativitas kita.

Sebisa mungkin, setiap sore kami berpetualang di luar rumah. Belajar tentang alam bersama toddler sungguh mengasyikkan. Dan menegangkan..


6. Menyaksikan semua "..... pertamanya"
Ini juga sangat berharga, menurut saya. Tengkurep pertama, raihan pertama, kata pertama, langkah pertama, panggilan "Bunda" pertama.. Ahhh.. Semua itu sangat priceless ya, Mom? Bahagia sekali bisa menyaksikannya tumbuh besar secara langsung.

7. Dokumentasi super lengkap mengenai perkembangannya
Hari-hari yang berlalu bersamanya kudu diabadikan, bisa dalam format foto maupun video. Sayangnya, kita jadi butuh hard disk dan atau stok DVD sepeti gara-gara file foto dan videonya membludaG.


"Yaya-time" = Nenen-time = Breastfeeding time

Anyway.
Dahulu, saya selalu menganggap bahwa sayalah heroine-nya karena telah mengorbankan karier demi mengurus anak. Tetapi, kalau dipikir-pikir, justru sayalah yang telah ditolong dan diberkahi kesempatan untuk tumbuh bersama Arka...

What do you think, Moms?