Sunday, February 15, 2015

Baby Blues Syndrome: Part 1

















Mungkin banyak orang bertanya, "Kenapa sih, mommies yang baru punya anak mengalami baby blues?". Saya akan balik bertanya, "Well, kenapa nggak?"

Faktanya, 80% mommies (terutama yang baru lahiran), mengalami baby blues. Bahkan, ada 10% yang mengalami kegalauan tingkat lanjut yang disebut postpartum depression. Biasanya ini terjadi dalam periode tahun pertama setelah kelahiran anak.
Nah, untuk obrolan kali ini, saya batasi lingkupnya hanya sekitar baby blues saja, oke? Karena (alhamdulillah), yang saya rasakan hanya sampai tahap baby blues saja..

a. My Own Story
Honestly, pada saat akan dan beberapa waktu setelah menikah, saya hanya mempersiapkan diri untuk menjadi istri. Benar-benar belum siap untuk menjadi seorang ibu. Yep, salahnya di situ, tuh! Kurang persiapan...

Tak lama setelah mengetahui kehamilan, saya sibuk menjaga kesehatan tubuh dan si janin. Yaah, cari tahu juga tentang cara merawat bayi, sih. Sudah 'ngulik juga tentang kasus baby blues.
Sayangnya, membaca artikel tentang baby blues ternyata sangat berbeda dengan mengalaminya sendiri..

Waktu BabyZilla masih berupa newborn, wujudnya cenderung lebih "mengibakan" dibanding "lucu". Memang normalnya seekor, eh, seorang newborn baby berwujud merah-kecil-keriput dan tampak rapuh begitu, sih. Tapi tetap saja saya merasa khawatir, takut tak sengaja mematahkan lehernya atau menjatuhkannya saat menggendong. Maklum, namanya juga emak-emak amatir.

ASI yang baru keluar dengan lancar hari ke-4 pascalahiran memperparah kekhawatiran saya. Stres berat rasanya, takut ASI tidak sukses keluar selamanya. Bodohnya... Padahal, semakin stres kita, semakin ASI-nya ga keluar, 'kaann?

Oh, ya. Hari-hari tanpa tidur juga membuat pikiran semakin 'butek dan emosi semakin labil.

Plus. Tamu-tamu yang berkunjung ke rumah untuk menengok si bayi tak lupa membawa oleh-oleh berupa kisah seram tentang bayi yang meninggal mendadak pada umur beberapa hari. Gila, 'kan? Makin stres-lah kita.

Rasa khawatir dan stres yang sudah menumpuk itu bercampur dengan mood yang busuk akibat kurang tidur. Daaann! Simsalabim! Jadilah baby blues syndrome yang diwujudkan dengan perilaku sering nangis sesengukan tanpa sebab yang pasti, mudah kesal atau marah, kadang insomnia (padahal jam tidurnya juga sudah berkurang drastis)..

Momen yang paling terpatri di ingatan saya yakni saat suatu hari saya menangis sampai ingusan di hadapan Arka yang baru berumur 2 minggu (plis, jangan ditiru..). Sebabnya adalah karena malam sebelumnya beliau kolik & menangis tanpa henti sampai saya ketiduran. Saya kewalahan, merasa kalah, sendirian, dan tak berdaya karena gagal menemukan penyebab koliknya apa, juga tidak tahu obatnya apa.

Kalau saya pribadi sih, penyebab baby blues yang paling utama karena rasa tak berdaya dan kekhawatiran berlebih akibat diberi tanggung jawab untuk merawat seorang bayi yang juga tak berdaya. Ehm, kebetulan saya kebagian porsi merawat Arka sebanyak 99,89% (by myself, karena eyang & daddy-nya sibuk).
Aneh, ya? Padahal sebagai seorang dokter hewan 'kan seharusnya sudah biasa merawat sesuatu.
Hell. Ternyata beda banget merawat hewan dengan merawat bayi. Ha. Ha.
Jauh lebih mudah merawat puluhan ternak sekaligus dibanding merawat anak.
IMHO, loh~

Oh, iya! Perubahan bentuk tubuh setelah melahirkan juga membuat lumayan stres. Anehnya, saat hamil saya merasa langsing. Giliran penghuni rahim sudah keluar, saya merasa superlebarrrr..
Kaki yang tadinya cuma bengkak sedikit selama hamil, eh malah jadi bengkak hebat setelah Arka lahir. Muka juga chubby berat. Meski sudah memahami bahwa perubahan ini terjadi akibat fluktuasi hormon, tetap saja jadi minder. Rasanya malas bercermin karena ada wajah buruk menanti di sana. Iiiihhhh!

Dan ada lagi.
Selama beberapa minggu disibukkan mengurus bayi, saya jadi meninggalkan rutinitas lama (termasuk mandi, haha..). Media sosial juga sama sekali tidak membantu. Melihat rekan-rekan seperjuangan meraih prestasi baru, hati ini bukannya ikut senang, malah jadi sedih.

"I miss the old me. I lost myself..."
Itulah yang sering muncul dipikiran saya selama masa-masa kegelapan baby blues.
Bagaimana cara menemukan pintu keluar dari masa kegelapan ini?
Yuk, cek postingan berikutnya!

End note:
Well, kisah seputar baby blues yang dialami setiap ibu tentu berbeda.
Ada juga mommy yang mengalami baby blues karena merasa dirinya jadi tersingkir, kalah tenar dari si bayi. Apalagi kalau si bayi merupakan cucu pertama di keluarga. Wah, si ibu pasti dinomorsekiankan...

Seperti peribahasa yang saya karang:
"Selama hamil menjadi ratu. Setelah melahirkan, menjadi babu..."

2 comments:

  1. mau sharing aja, saya sempet baca di udoctor.co.id tentang tips bagi ibu untuk mengatasi depresi pasca melahirkan (baby blues). bisa dibaca di http://udoctor.co.id/kesehatan-ibu-dan-anak/hindari-depresi-pasca-melahirkan-read-322.html

    ReplyDelete
  2. Thanx for sharing~ Bisa juga baca di http://lilsunwarrior.blogspot.com/2015/02/baby-blues-syndrome-part-3.html ..

    ReplyDelete