Saturday, February 21, 2015
Ping Pong Guy~
Bayi saya yang tak bisa lepas dari nenen ini.. Sekarang sudah mau main ping-pong sendiri..
Betul ternyata kata orang bijak..
"The DAYS are LONG. But the YEARS are SHORT..."
Wednesday, February 18, 2015
Baby Blues Syndrome: Part 3
Hellooo, moms & dads!
Yuk, kita lanjutkan lagi obrolan tentang baby blues ini!
Sekarang kita memasuki bagian terakhir, ya!
Sewaktu Arka masih berwujud newborn, saya mengalami beberapa gejala klinis dari sindrom baby blues. Kebetulan, saya segera menyadarinya.
Well, ternyata "menyadari" saja belum mampu menghilangkan baby blues ini. Penderita baby blues membutuhkan pertolongan. Namun pertanyaannya, siapakah yang bisa menyembuhkan baby blues? Terapi apakah yang dibutuhkan?
g. How To Beat It
General remedy..
1. Mintalah bantuan suami, ortu, mertua, serta saudara dalam mengurus si bayi. Bantuannya harus FOR REAL, ya! Jangan cuma omdo atau janji semu saja..
2. Tidurlah selagi ada kesempatan. Serius, tidurlah saat bayi tidur. Piring kotor bisa menunggu dengan sabar, koq! Btw, jika si bayi sangat suka meneror di tengah malam, coba pasanglah musik klasik. Dulu, Arka langsung tenang dan bobo nyenyak kalau dengar musik klasik (sekarang sih, ga ngaruh). Kita pun juga jadi rileks, 'kan...
3. Sering-sering sharing tentang keseharian kepada pasangan. Kalau mommies gak cerita, dijamin para Martian yang bebal itu akan mengira semuanya baik-baik saja.
Padahal... Seandainya mereka tahu...
4. Bergabunglah bersama komunitas ibu untuk berbagi pengalaman dan perasaan.
Baik secara real atau melalui internet.
Coba cek situs seperti Scary Mommy, Mommies Daily, The Urban Mama, etc..
5. Beri penjelasan kepada pasangan tentang baby blues syndrome, agar ia bisa memahami berbagai perubahan sikap dan tingkah laku Anda. Well, kadang baby blues malah menyerang si ayah, lho! Jadi tidak ada salahnya para lelaki ini di-briefing dulu.
6. Anyway, menurut pendapat saya pribadi, sosok yang paling bisa menyembuhkan baby blues adalah diri kita sendiri. Sahabat atau keluarga bisa berusaha keras menolong. Tetapi, tanpa kemauan keras dari diri sendiri untuk sembuh, usaha mereka untuk menolong kita akan sia-sia. Pada intinya, yang bisa menolong adalah sugesti positif dari diri kita.
Bagaimana cara memunculkan sugesti positif tersebut?
How to help yourself...
1. Tidak membiarkan diri terus menerus dalam kesedihan atau merasa tidak berdaya. Ini agak susah sih.. Tetapi, kita harus menekan perasaan self-pity sampai seminim mungkin, Moms!
Saya selalu mengingatkan diri sendiri, "Kalau mau menjadi heroine bagi si bayi, kita harus kuat (lahir & batin)!"..
2. Teguhkan hati & percaya bahwa kita bisa merawat dan mengasuh bayi. Kalaupun mommies sampai pada titik "aku tidak tahan lagi", percayalah bahwa Anda tidak sendirian. Ada suami, orang tua, atau anggota keluarga lain yang siap membantu. Asal kita meminta tolong...
3. Jangan lupa untuk selalu makan yang enak-enak! Soalnya, makan enak bisa jadi mood booster. Ups, dan makan yang sehat juga, ya. Apalagi kalau mommies berniat untuk memberikan ASI eksklusif.
4. Pijat dan luluran, yuuk! Pemijatan penting juga untuk memperlancar milk let down dan melemaskan otot-otot yang lelah pascalahiran. Juga penting untuk memperlancar sirkulasi darah, menghilangkan stress, dan memberikan energi positif. Kalau luluran? Hemmm.. Pastinya bikin hati senang dan percaya diri, ya!
5. Teruskan hobi Anda, ya! Sebisa mungkin jangan sampai ditinggalkan. Ini penting untuk refreshing! Lakukan hal-hal yang bikin mommies gembira.
6. Jika mommies merasa tidak mampu mengendalikan diri lagi, sepertinya perlu konsultasi pada psikiater atau psikolog. Apabila depresi yang Anda alami sudah sangat berat, psikiater biasanya akan menangani dengan obat antidepresan.
7. Anda juga bisa belajar cara penyembuhan diri dengan belajar teknik relaksasi, pernapasan, hipnosis diri (self-hypnosis), serta olah fisik plus pernapasan. Bisa juga merilekskan diri dengan bantuan aromaterapi.
8. Jangan lupa minum vitamin ya, Moms! Biasanya dokter kandungan kesayangan langsung memberikan multivitamin pascalahiran. Yuk, ingatkan diri untuk meminumnya..
Hey, superdads!
Para suami bisa memulai dari hal-hal yang kecil. Misalnya menanyakan kabar istrinya, atau mencarikan orang yang dapat membantunya mengurus rumah dan bayi. Dukungan sosial yang positif terbukti dapat membantu ibu melepaskan diri dari depresi pascapersalinan.
h. Tips Pencegahan
Yups, mencegah memang jauh lebih baik daripada mengobati, Moms!
Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan "sebelum" sindrom baby blues menancapkan taringnya..
Check this out, yow~
1. Mohon dukungan & bantuan keluarga untuk MERAWAT IBU dan BAYI.
2. Persiapkan mental (terutama) dan pengetahuan mommies seputar perawatan dan kesehatan bayi. Menurut saya, baca textbook saja kurang cukup. Bacalah juga blog-blog para ortu yang sudah lebih dulu mengalami suka-duka merawat newborn baby.
Paling penting: ketahuilah bahwa breastfeeding memang sulit pada awalnya. DAN newborn Anda akan sulit tidur selama beberapa minggu. Artinya, mommies juga akan sulit tidur (dan makan) selama beberapa waktu.. Sorry to say..
3. Beritahu pasangan bahwa bantuannya terutama sangat diharapkan dalam membesarkan anak.
4. Banyak-banyak berdoa. Have a big faith, Moms~
5. Tidak perlu terlalu perfeksionis dalam proses merawat bayi. Anyway, ini 'kan tipenya learning by doing. Atau, trial & error.. Jadi, tarik napas dan rileks ya, Moms!
Well.. Akhirnya tamat juga seri baby blues ini.
Sebenarnya, masih banyak lagi yang perlu dibahas.
Nah, gimana kalau kita 'ngobrol saja, yuuks!
Share pengalaman & info Anda seputar baby blues, yah!
Yuk, kita lanjutkan lagi obrolan tentang baby blues ini!
Sekarang kita memasuki bagian terakhir, ya!
Sewaktu Arka masih berwujud newborn, saya mengalami beberapa gejala klinis dari sindrom baby blues. Kebetulan, saya segera menyadarinya.
Well, ternyata "menyadari" saja belum mampu menghilangkan baby blues ini. Penderita baby blues membutuhkan pertolongan. Namun pertanyaannya, siapakah yang bisa menyembuhkan baby blues? Terapi apakah yang dibutuhkan?
g. How To Beat It
General remedy..
1. Mintalah bantuan suami, ortu, mertua, serta saudara dalam mengurus si bayi. Bantuannya harus FOR REAL, ya! Jangan cuma omdo atau janji semu saja..
2. Tidurlah selagi ada kesempatan. Serius, tidurlah saat bayi tidur. Piring kotor bisa menunggu dengan sabar, koq! Btw, jika si bayi sangat suka meneror di tengah malam, coba pasanglah musik klasik. Dulu, Arka langsung tenang dan bobo nyenyak kalau dengar musik klasik (sekarang sih, ga ngaruh). Kita pun juga jadi rileks, 'kan...
3. Sering-sering sharing tentang keseharian kepada pasangan. Kalau mommies gak cerita, dijamin para Martian yang bebal itu akan mengira semuanya baik-baik saja.
Padahal... Seandainya mereka tahu...
4. Bergabunglah bersama komunitas ibu untuk berbagi pengalaman dan perasaan.
Baik secara real atau melalui internet.
Coba cek situs seperti Scary Mommy, Mommies Daily, The Urban Mama, etc..
5. Beri penjelasan kepada pasangan tentang baby blues syndrome, agar ia bisa memahami berbagai perubahan sikap dan tingkah laku Anda. Well, kadang baby blues malah menyerang si ayah, lho! Jadi tidak ada salahnya para lelaki ini di-briefing dulu.
6. Anyway, menurut pendapat saya pribadi, sosok yang paling bisa menyembuhkan baby blues adalah diri kita sendiri. Sahabat atau keluarga bisa berusaha keras menolong. Tetapi, tanpa kemauan keras dari diri sendiri untuk sembuh, usaha mereka untuk menolong kita akan sia-sia. Pada intinya, yang bisa menolong adalah sugesti positif dari diri kita.
Bagaimana cara memunculkan sugesti positif tersebut?
How to help yourself...
1. Tidak membiarkan diri terus menerus dalam kesedihan atau merasa tidak berdaya. Ini agak susah sih.. Tetapi, kita harus menekan perasaan self-pity sampai seminim mungkin, Moms!
Saya selalu mengingatkan diri sendiri, "Kalau mau menjadi heroine bagi si bayi, kita harus kuat (lahir & batin)!"..
2. Teguhkan hati & percaya bahwa kita bisa merawat dan mengasuh bayi. Kalaupun mommies sampai pada titik "aku tidak tahan lagi", percayalah bahwa Anda tidak sendirian. Ada suami, orang tua, atau anggota keluarga lain yang siap membantu. Asal kita meminta tolong...
3. Jangan lupa untuk selalu makan yang enak-enak! Soalnya, makan enak bisa jadi mood booster. Ups, dan makan yang sehat juga, ya. Apalagi kalau mommies berniat untuk memberikan ASI eksklusif.
4. Pijat dan luluran, yuuk! Pemijatan penting juga untuk memperlancar milk let down dan melemaskan otot-otot yang lelah pascalahiran. Juga penting untuk memperlancar sirkulasi darah, menghilangkan stress, dan memberikan energi positif. Kalau luluran? Hemmm.. Pastinya bikin hati senang dan percaya diri, ya!
5. Teruskan hobi Anda, ya! Sebisa mungkin jangan sampai ditinggalkan. Ini penting untuk refreshing! Lakukan hal-hal yang bikin mommies gembira.
6. Jika mommies merasa tidak mampu mengendalikan diri lagi, sepertinya perlu konsultasi pada psikiater atau psikolog. Apabila depresi yang Anda alami sudah sangat berat, psikiater biasanya akan menangani dengan obat antidepresan.
7. Anda juga bisa belajar cara penyembuhan diri dengan belajar teknik relaksasi, pernapasan, hipnosis diri (self-hypnosis), serta olah fisik plus pernapasan. Bisa juga merilekskan diri dengan bantuan aromaterapi.
8. Jangan lupa minum vitamin ya, Moms! Biasanya dokter kandungan kesayangan langsung memberikan multivitamin pascalahiran. Yuk, ingatkan diri untuk meminumnya..
Hey, superdads!
Para suami bisa memulai dari hal-hal yang kecil. Misalnya menanyakan kabar istrinya, atau mencarikan orang yang dapat membantunya mengurus rumah dan bayi. Dukungan sosial yang positif terbukti dapat membantu ibu melepaskan diri dari depresi pascapersalinan.
h. Tips Pencegahan
Yups, mencegah memang jauh lebih baik daripada mengobati, Moms!
Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan "sebelum" sindrom baby blues menancapkan taringnya..
Check this out, yow~
1. Mohon dukungan & bantuan keluarga untuk MERAWAT IBU dan BAYI.
2. Persiapkan mental (terutama) dan pengetahuan mommies seputar perawatan dan kesehatan bayi. Menurut saya, baca textbook saja kurang cukup. Bacalah juga blog-blog para ortu yang sudah lebih dulu mengalami suka-duka merawat newborn baby.
Paling penting: ketahuilah bahwa breastfeeding memang sulit pada awalnya. DAN newborn Anda akan sulit tidur selama beberapa minggu. Artinya, mommies juga akan sulit tidur (dan makan) selama beberapa waktu.. Sorry to say..
3. Beritahu pasangan bahwa bantuannya terutama sangat diharapkan dalam membesarkan anak.
4. Banyak-banyak berdoa. Have a big faith, Moms~
5. Tidak perlu terlalu perfeksionis dalam proses merawat bayi. Anyway, ini 'kan tipenya learning by doing. Atau, trial & error.. Jadi, tarik napas dan rileks ya, Moms!
Well.. Akhirnya tamat juga seri baby blues ini.
Sebenarnya, masih banyak lagi yang perlu dibahas.
Nah, gimana kalau kita 'ngobrol saja, yuuks!
Share pengalaman & info Anda seputar baby blues, yah!
Monday, February 16, 2015
Baby Blues Syndrome: Part 2
Banyak orang awam di negara kita menganggap serangan baby blues ini hanya mengada-ngada. Dikiranya 'kaya 'ngidam, kali? Bahkan, penderita baby blues sering kali dicap manja.
Atau mungkin, kita bakal dituduh "kurang bersyukur" kalau mengaku sedang menderita baby blues. Padahal, ini kasus medis yang ada penjelasan ilmiahnya, loh~
Beda dengan masyarakat di luar negeri sana. Sepertinya mereka tanpa ragu mengakui bahwa baby blues pernah atau sedang menjangkiti mereka. Hal ini terbukti dengan banyaknya website/blog/forum yang membahas secara terbuka tentang serba-serbi baby blues. Beberapa seleb juga tanpa ragu mengakui bahwa mereka pernah mengalami baby blues syndrome. Misalnya, Brooke Shields, Sadie Frost, Elle McPherson, dan Kate Winslet. Kisahnya justru menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi mommies lain..
Well, sebenarnya pada abad ke-5 SM, Hippocrates sudah me-record tentang baby blues. OMG!
Catatan medis yang ditulis beliau menyebutkan secara rinci perihal depresi ringan yang dialami oleh ibu yang baru melahirkan. Depresi ringan inilah yang menjadi cikal bakal sindrom baby blues.
Sayangnya, walau sudah dicatat dalam jurnal medis Hippocrates, sindrom baby blues ini tak terlalu dianggap penting. Meski banyak yang mengalaminya, sering hanya dianggap sebagai efek samping dari keletihan pascamelahirkan. Padahal, cukup banyak wanita yang mengalaminya.
c. Definisi Rinci
Sindrom baby blues adalah gangguan emosi ringan terjadi dalam kurun waktu 2 minggu setelah ibu melahirkan. (Teorinya begitu, tapi saya sih mengalaminya selama plus minus 2 bulan).
Ada pula yang menyebutnya dengan istilah lain seperti maternity blues atau postpartum blues atau postpartum distress syndrome.
Menurut dr. Irawati Sp.Kj dalam majalah Parents Indonesia, sesuai dengan istilahnya, "blues", yang berarti keadaan tertekan, sindroma ini ditandai dengan gejala-gejala gangguan emosi seperti sering menangis, mudah marah, dan sensi.
d. Berbagai Faktor Penyebabnya
Munculnya berbagai gejala ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti berikut.
1. Misalnya, ketidaksiapan ibu menghadapi kelahiran bayinya. Ada ibu yang tidak menyadari kalau kelahiran seorang bayi selalu disertai dengan peningkatan tanggung jawab (yang superBESAR).
2. Rintangan dalam menyusui bayinya. Well, kita semua tahu bahwa breastfeeding memang tricky pada awalnya..
3. Menurut dr. Irawati Sp.Kj, faktor pencetus lain yang tidak kalah serius adalah sikap ibu dalam proses merawat bayi pascamelahirkan. Seringkali seorang ibu berharap bayi yang baru lahir akan tidur nyenyak di malam hari (saya banget ini, sih!). Padahal, realitanya....
4. Sindrom baby blues juga sangat mungkin terjadi oleh para ibu yang pernah mengalami trauma melahirkan atau mengalami kejadian yang sangat menyedihkan selama mengandung. Oleh karena itu, mommies yang mengalami depresi saat mengandung, atau pernah mengalami depresi sebelumnya lebih harus mendapatkan perhatian khusus karena memiliki peluang besar untuk mengalami sindrom baby blues.
5. Perubahan kadar hormon dalam sirkulasi darah secara drastis juga mempengaruhi kestabilan emosi. Selama hamil, hormon estrogen dan progresteron akan mengalami peningkatan. Hormon-hormon ini akan menurun tajam dalam tempo 72 jam setelah melahirkan. Nah, inilah yang memicu mood swing. Bayangkan, saat menstruasi saja kita sudah sangat sensitif. Apalagi pascamelahirkan?!!
6. Menurut saya, semakin perfeksionis & introvert seorang mommy, makin tinggi risikonya untuk mengalami baby blues.
Don't Worry!
Singkatnya kurun waktu dan sifatnya yang temporer membuat baby blues akan akan ‘sembuh’ dengan sendirinya tanpa perlu ditangani oleh tenaga medis. Pertolongan yang paling tepat, menurut dr. Arju Anita, adalah terapi psikologis. Dukungan moral dari lingkungan sekitarnya berperan penting dalam proses persembuhan si mommy.
e. The Signs
Para suami dan ayah, coba ceklah kondisi istri Anda. Apakah setelah kelahiran si bayi, sang ibu sering mengalami gejala seperti di bawah ini?
f. Berbeda dengan Postpartum Depression
Tips untuk membedakannya:
Perhatikan pola tidur si ibu. Jika ketika ada orang lain menjaga bayi, si ibu bisa tertidur, maka besar kemungkinan si ibu hanya menderita baby blues. Namun, jika si ibu sangat sulit tertidur walaupun bayinya dijaga oleh orang lain, kemungkinan beliau sudah mengalami postpartum depression.. Kondisi inilah yang membutuhkan bantuan ahli..
Next:
Cara mencegah dan menangani baby blues!
Sunday, February 15, 2015
Baby Blues Syndrome: Part 1
Mungkin banyak orang bertanya, "Kenapa sih, mommies yang baru punya anak mengalami baby blues?". Saya akan balik bertanya, "Well, kenapa nggak?"
Faktanya, 80% mommies (terutama yang baru lahiran), mengalami baby blues. Bahkan, ada 10% yang mengalami kegalauan tingkat lanjut yang disebut postpartum depression. Biasanya ini terjadi dalam periode tahun pertama setelah kelahiran anak.
Nah, untuk obrolan kali ini, saya batasi lingkupnya hanya sekitar baby blues saja, oke? Karena (alhamdulillah), yang saya rasakan hanya sampai tahap baby blues saja..
a. My Own Story
Honestly, pada saat akan dan beberapa waktu setelah menikah, saya hanya mempersiapkan diri untuk menjadi istri. Benar-benar belum siap untuk menjadi seorang ibu. Yep, salahnya di situ, tuh! Kurang persiapan...
Tak lama setelah mengetahui kehamilan, saya sibuk menjaga kesehatan tubuh dan si janin. Yaah, cari tahu juga tentang cara merawat bayi, sih. Sudah 'ngulik juga tentang kasus baby blues.
Sayangnya, membaca artikel tentang baby blues ternyata sangat berbeda dengan mengalaminya sendiri..
Waktu BabyZilla masih berupa newborn, wujudnya cenderung lebih "mengibakan" dibanding "lucu". Memang normalnya seekor, eh, seorang newborn baby berwujud merah-kecil-keriput dan tampak rapuh begitu, sih. Tapi tetap saja saya merasa khawatir, takut tak sengaja mematahkan lehernya atau menjatuhkannya saat menggendong. Maklum, namanya juga emak-emak amatir.
ASI yang baru keluar dengan lancar hari ke-4 pascalahiran memperparah kekhawatiran saya. Stres berat rasanya, takut ASI tidak sukses keluar selamanya. Bodohnya... Padahal, semakin stres kita, semakin ASI-nya ga keluar, 'kaann?
Oh, ya. Hari-hari tanpa tidur juga membuat pikiran semakin 'butek dan emosi semakin labil.
Plus. Tamu-tamu yang berkunjung ke rumah untuk menengok si bayi tak lupa membawa oleh-oleh berupa kisah seram tentang bayi yang meninggal mendadak pada umur beberapa hari. Gila, 'kan? Makin stres-lah kita.
Rasa khawatir dan stres yang sudah menumpuk itu bercampur dengan mood yang busuk akibat kurang tidur. Daaann! Simsalabim! Jadilah baby blues syndrome yang diwujudkan dengan perilaku sering nangis sesengukan tanpa sebab yang pasti, mudah kesal atau marah, kadang insomnia (padahal jam tidurnya juga sudah berkurang drastis)..
Momen yang paling terpatri di ingatan saya yakni saat suatu hari saya menangis sampai ingusan di hadapan Arka yang baru berumur 2 minggu (plis, jangan ditiru..). Sebabnya adalah karena malam sebelumnya beliau kolik & menangis tanpa henti sampai saya ketiduran. Saya kewalahan, merasa kalah, sendirian, dan tak berdaya karena gagal menemukan penyebab koliknya apa, juga tidak tahu obatnya apa.
Kalau saya pribadi sih, penyebab baby blues yang paling utama karena rasa tak berdaya dan kekhawatiran berlebih akibat diberi tanggung jawab untuk merawat seorang bayi yang juga tak berdaya. Ehm, kebetulan saya kebagian porsi merawat Arka sebanyak 99,89% (by myself, karena eyang & daddy-nya sibuk).
Aneh, ya? Padahal sebagai seorang dokter hewan 'kan seharusnya sudah biasa merawat sesuatu.
Hell. Ternyata beda banget merawat hewan dengan merawat bayi. Ha. Ha.
Jauh lebih mudah merawat puluhan ternak sekaligus dibanding merawat anak.
IMHO, loh~
Oh, iya! Perubahan bentuk tubuh setelah melahirkan juga membuat lumayan stres. Anehnya, saat hamil saya merasa langsing. Giliran penghuni rahim sudah keluar, saya merasa superlebarrrr..
Kaki yang tadinya cuma bengkak sedikit selama hamil, eh malah jadi bengkak hebat setelah Arka lahir. Muka juga chubby berat. Meski sudah memahami bahwa perubahan ini terjadi akibat fluktuasi hormon, tetap saja jadi minder. Rasanya malas bercermin karena ada wajah buruk menanti di sana. Iiiihhhh!
Dan ada lagi.
Selama beberapa minggu disibukkan mengurus bayi, saya jadi meninggalkan rutinitas lama (termasuk mandi, haha..). Media sosial juga sama sekali tidak membantu. Melihat rekan-rekan seperjuangan meraih prestasi baru, hati ini bukannya ikut senang, malah jadi sedih.
"I miss the old me. I lost myself..."
Itulah yang sering muncul dipikiran saya selama masa-masa kegelapan baby blues.
Bagaimana cara menemukan pintu keluar dari masa kegelapan ini?
Yuk, cek postingan berikutnya!
End note:
Well, kisah seputar baby blues yang dialami setiap ibu tentu berbeda.
Ada juga mommy yang mengalami baby blues karena merasa dirinya jadi tersingkir, kalah tenar dari si bayi. Apalagi kalau si bayi merupakan cucu pertama di keluarga. Wah, si ibu pasti dinomorsekiankan...
Seperti peribahasa yang saya karang:
"Selama hamil menjadi ratu. Setelah melahirkan, menjadi babu..."
Tuesday, February 3, 2015
Blueberry & Cheese Oatmeal for Your Baby
![]() |
| Kandungan nutrien dalam buah blueberry |
Gambar hidangan havermut yang disajikan bersama blueberry & strawberry selalu menarik perhatian saya. Rasanya pengen banget bikin hidangan tersebut untuk BabyZilla. Pas banget beberapa waktu yang lalu ada blueberry yang lagi diskon di Hero Supermarket.
Sayangnya, saya belum bernyali untuk ngasih blueberry bulat-bulat untuk dia. Choking hazard mengintai di mana-mana..
![]() |
| Blueberry yang lagi diskon, harganya Rp20.000,00/pak |
![]() |
| Blueberry, nama ilmiahnya Vaccinium sp. |
Akhirnya, saya iseng bereksperimen membuat blueberry & cheese oatmeal khusus bayi.
Tapi, tiap Arka makan, saya 'majakin porsinya dia terus.. Hehe..
Resepnya ini nih! Hanya bermodalkan kenekatan, koq!
Bahan:
1 pak (sekitar 400 gram) blueberry, cuci bersih sih sih..
2-3 sdm oatmeal alias havermut
350 ml air
Gula atau madu secukupnya
Keju cheddar parut, sesuai selera (beberapa literatur menyarankan pemberian keju saat bayi sudah berusia >10 bulan)
Cara membuat:
1. Didihkan 350 ml air di panci.
2. Masukkan blueberry ke dalam air yang telah mendidih.
3. Aduk-aduk perlahan sampai blueberry lunak dan larutan menjadi kental. Jangan lupa kecilkan api.
4. Tambahkan oatmeal ke dalam "selai" blueberry.
5. (Jika perlu), tambahkan sedikit madu atau gula sambil terus diaduk.
6. Matikan api saat blueberry & oatmeal sudah tercampur rata serta mengental.
7. Pindahkan ke piring saji, taburkan keju cheddar parut sebagai topping.
7. Tunggu sampai agak hangat, baru disajikan buat si kecil dan atau bapaknya..
Note: Khusus bagi mommies yang sibuk atau malas masak setiap hari (seperti saya), bisa langsung membuat hidangan ini dalam porsi besar. Jangan campur dengan keju dulu, ya!
Kemudian, masukkan ke dalam wadah plastik bertutup ATAU cetakan es batu bertutup. Voila! Siap disimpan di dalam freezer selama sebulan. Topping keju cheddar bisa ditambahkan saat akan makan, setelah oatmeal-nya dihangatkan dengan steamer atau rice cooker.
![]() |
| Blueberry & cheese oatmeal untuk bayi. Note: mesti nyewa food photographer, next time.. |
![]() |
| Blueberry & cheese oatmeal |
Anyway, menu ini sarat dengan gizi yang diperlukan bayi untuk pertumbuhannya.
Tapiii.. Jangan kaget ya, mommy~
Keesokan harinya, pup si bayi biasanya akan berwarna hijau keunguan.
Hahahah.. Selamat mencoba, yaaah!
Subscribe to:
Comments (Atom)











