Tuesday, September 29, 2015

Homemade Play Dough: Yay or Nay?

Blame Pinterest & Youtube for this blogpost.
Banyak ortu-ortu trendi masa kini 'ngotot membuat 'homemade things' untuk anaknya (terutama yang masih bayi). Motifnya mungkin ingin menyediakan barang-barang yang aman bagi buah hati. Memang, bisa saja kita suspicious terhadap produk pabrikan yang komposisi bahannya wallahu'alam.

Ada jutaan resep creativity games di Pinterest yang bisa kita coba di rumah.
Termasuk lilin (adonan sih, exactly) mainan atau play dough.
Yuk, kita cek apa saja sih, manfaat bermain play dough.


Sebenarnya sih, saya tidak termasuk ortu yang anti-barang-pabrikan.
Jadi, bisa saja sebenarnya jalan kaki ke toko bayi dekat rumah dan membeli produk play dough buatan pabrik.
Hanya saja, sewaktu menengok isi resep Homemade Play Dough di Youtube & Pinterest koq, rasanya mudah banget. Jadi ingin iseng-iseng mencoba.

Watch this hilarious tutorial on Youtube.


Dann..
TA-DAAA~
100% homemade play dough.
50% satisfaction of the result (according to me).
60% excitement of the baby.
70% works to clean up the mess.

The Result
1. Saya mengharapkan play dough yang lembut dan mudah dibentuk. Namun, untuk resep tersebut, kita harus menambahkan minyak dalam jumlah cukup banyak. Efeknya, alas bermain jadi menyerap minyak. Euuww~
Padahal saya sudah meletakkan kertas kalendar bekas yang cukup glossy. 
Di lain waktu saya menggunakan talenan sebagai alas.

2. Entahlah, mungkin merek bahan pewarna yang saya gunakan kurang yahud. Rasanya di Pinterest sana koq, tampak cantiiiik sekali warna-warninya. Sedangkan, play dough saya warnanyaaa...
(Apa standar saya yang terlalu tinggi, ya?)
Sempat terpikir, warna yang n'demek ini bisa jadi karena menggunakan minyak yang berwarna kekuningan. Mungkin di lain waktu saya akan mencoba menggunakan minyak kelapa. (Tapi akhirnya, ongkos produksi jauh melebihi harga play dough pabrikan..)

3. Saat saya mencoba mencetak si homemade playdough ini dengan menggunakan Cute Cutter dari dough pabrik (bukan cookie cutter), hasilnya mengerikan! Adonannya terlalu lunak sehingga gambar tidak tercetak dengan sempurna. Adonan ini bisa sukses dibentuk dengan menggunakan cookie cutter atau mainan shapes milik si bayi.

4. Untungnya, si adonan ini bisa disimpan dalam kantong ziplock tanpa menjadi tengik dan keras. Lewat dua minggu sejak waktu produksi, si adonan masih bisa dipakai bermain.

5. Anyway, memang semestinya para ortu bermain play dough dengan anak berusia 2 tahun ke atas.
Karena, di bawah itu, mereka biasanya menjadi destroyer.. Haha!
Seperti Arka, saat ibunya membuat teddy bear, dia menancapkan ranting-ranting pohon sehingga hasil akhirnya malah menjadi Voodoo Teddy Bear.
Jangan tanya mengapa tidak ada bentuk bunga.
Saat mahkota bunga baru jadi sebagian, sudah hancur bunganya dilindas truk milik Arka..
Goodness gracious..

6. Tetapi setidaknya, play dough ini tidak akan menjadi masalah jika tertelan.
Dan lumayan mengasyikkan sebagai bahan permainan indoor jika musim hujan tiba..

Beberapa hasil karya yang dibuat dengan waktu < 1 menit untuk menghindari tangan usil Arka
























The Conclusion
Homemade play dough ini cocok digunakan untuk permainan menghias dengan berbagai aksesoris. Misalnya, ranting pohon, manik-manik, bebatuan kecil, kancing, kerang, mata untuk boneka, dan sebagainya.

Sayangnya, jika Moms & Dads mengharapkan bisa membuat kue ultah cantik a la Play Doh, sepertinya tidak bisa. Hehehe..

Sekali lagi, ada baiknya jika memainkan play dough ini bersama anak usia 2 tahun atau lebih. Berdasarkan pengalaman saya, anak di bawah 2 tahun belum begitu tertarik dan belum memahami asyiknya memainkan play dough.

Baiklah, mungkin saya akan kembali membuat play dough saat Arka sudah lebih besar nanti.

Amen.
Salam dari lelaki bercawat pink..

Sunday, September 20, 2015

Nature Lover Kids, Why Not?

Arka & his toy police car (yang rusak hanya dalam waktu 7 hari)
Good day, Parents!
Bicara tentang childhood, saya merasa beruntung bisa tumbuh di kota kecil yang asri dan indah.
Apalagi masa itu belum ada serangan teknologi semasif sekarang.
Kenangan tentang masa kecil tersebut masih berhasil menentramkan jiwa hingga kini.
What an amazing childhood~

Saya selalu merasa damai dan tentram di alam terbuka.
Saya pun berharap Arka bisa merasakan asyiknya bermain di luar rumah sesering mungkin..
Termasuk jika saya sudah merasa penat dengan segala rengekan Si Little Imp.
Biasanya saya langsung mengajaknya berjalan-jalan di lapangan depan rumah.
Kebetulan di sana juga ada taman kanak-kanak yang (kadang) terbuka untuk umum.

Thanx God, it seems he enjoyed every adventure

Ajaib, ya? Hanya dengan bermain di lingkungan yang masih hijau sekitar 30 menit, mood kami berdua langsung membaik. Ternyata, ini terjadi akibat kadar serotonin dalam tubuh meningkat. Serotonin dikenal sebagai Si Mood Booster dan Si Penumbuh Kasih Sayang. Hehehe..

Berikut ini adalah beberapa manfaat yang bisa kita peroleh dari bermain di alam bersama si kecil.




Inilah yang terjadi di dalam tubuh kita saat menikmati segarnya alam..



Anyway, manfaat laten jika Si Bayi main di ruangan terbuka yakni energinya yang berlebih itu menjadi tersalurkan. Meaning: early bedtime! Hurrah!

Lastly, ungkapan Oma Anne Frank berikut ini pas banget, deh..


Post script:
Meski saya berharap Arka menjadi anak pencinta alam, bukan berarti hari-hari kami totally screen-free. Apa boleh buat, saya masih memasangkan Super Wings, Robocar Poli, Tayo The Little Bus, dan sejenisnya di layar TV kami, demi bisa memasak atau menyuapinya makan. 

IMHO, selama kita masih mengontrol materi dan durasi tontonan, it's alright..
Soalnya saya tipe emak yang realistis dan ga begitu idealis.
Mungkin ada ibu (atau bapak) yang sanggup menggendong anak sambil memasak. Atau mengejar-ngejar toddler sambil menyuapinya makan.
Sadly, that is everything i'm not..